Para ekonom mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris dalam beberapa hari terakhir, seiring ekspektasi inflasi kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi mendorong rumah tangga menahan belanja dan memicu Bank of England untuk menaikkan suku bunga. Bahkan, investor sempat memperkirakan hingga empat kali kenaikan suku bunga.
“Pertumbuhan output di sektor manufaktur dan jasa melambat signifikan, dengan perusahaan menyebut kehilangan bisnis secara langsung akibat peristiwa di Timur Tengah,” ujar Chris Williamson, Chief Business Economist di S&P Global Market Intelligence. Ia menambahkan dampaknya terlihat melalui meningkatnya aversi risiko, tekanan harga yang melonjak, suku bunga lebih tinggi, serta gangguan rantai pasok.
S&P juga mencatat konflik telah menekan pesanan baru akibat melemahnya kepercayaan bisnis dan konsumen. Permintaan dari luar negeri ikut menyusut, menyebabkan penurunan tajam pada pesanan baru sektor jasa dari pasar internasional dalam hampir satu tahun.
Ekspektasi pelaku usaha untuk 12 bulan ke depan turut melemah ke level terendah dalam sembilan bulan, dengan responden menyalahkan perang sebagai faktor utama memburuknya prospek.
“Data PMI Maret secara jelas menunjukkan risiko perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi yang lebih tinggi telah mulai terjadi,” kata Williamson.
(bbn)




























