Investor masih memasang mode risk-on dengan memburu aset aman seperti obligasi, terutama di negara-negara maju. Ini terjadi akibat perang di Timur Tengah yang berkepanjangan, kini sudah memasuki pekan keempat.
Tensi sempat turun kala Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal akan menunda serangan ke fasilitas energi Iran. Dinamika ini memberi harapan bahwa konflik mulai mereda.
Namun pelaku pasar belum sepenuhnya percaya. Kini investor menunggu pernyataan dari Teheran.
“Saya belum bisa berharap banyak sampai melihat bagaimana langkah Iran selanjutnya,” tegas Gerald Gan, Chief Investment Officer di Reed Capital Partners yang berbasis di Singapura, seperti dikabarkan Bloomberg News.
Salah satu sinyal bahwa de-eskalasi belum terjadi adalah harga minyak yang masih tinggi. Pada pukul 11:56 WIB, harga minyak jenis brent melesat hampir 4% ke US$ 103,82/barel.
“Harga minyak brent dibuka di atas US$ 100/barel, menjadi tanda bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari kata selesai. Jika harga minyak naik lagi, maka bisa berdampak ke berbagai aset di pasar keuangan,” tutur Garfield Reynolds, MLIV Asia Team Leader di Bloomberg.
(aji)



























