Dalam skema baru ini, eksekusi teknis revitalisasi irigasi akan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, dengan koordinasi bersama Kementerian Pertanian sebagai pengguna utama jaringan irigasi.
Pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung program tersebut. Pada 2025, dana sekitar Rp12 triliun digelontorkan untuk memperbaiki jaringan irigasi nasional, dan program ini akan berlanjut hingga 2026 dan tahun-tahun berikutnya.
Sekretaris Jenderal Kementerian PU Djaya Sukarno menyebut realisasi awal program telah menjangkau 653.158 hektare lahan irigasi dengan nilai sekitar Rp10,15 triliun. Untuk 2026, pemerintah menargetkan cakupan meningkat menjadi 750.000 hektare.
“Targetnya sudah tercapai di tahun lalu 653.158 hektar. Ini dengan uang senilai Rp10,15 triliun dari alokasi yang sebetulnya dari Pak Presiden ini sekitar Rp12 triliun” ujarnya.
Sudaryono menegaskan perbaikan irigasi menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian, mengingat air merupakan faktor produksi yang tidak dapat “diproduksi” seperti pupuk atau benih.
Saat ini, dari total luas baku sawah nasional sekitar 7 juta hektare, baru sekitar 24% yang terlayani irigasi memadai. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga 50% dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan perbaikan irigasi, intensitas tanam diharapkan meningkat signifikan. Hal ini memungkinkan lahan yang sama dipanen lebih dari satu kali dalam setahun, sehingga mendongkrak produksi beras nasional tanpa harus membuka lahan baru.
(fik/ell)






























