Namun, adanya nada hawkish dari Ketua Jerome Powell serta Summary of Economic Projection (SEP), yang hanya memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga untuk 2026 dan 2027, mendorong penguatan dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat sebesar 0,5% menjadi 100.
"Kenaikan harga energi dalam jangka pendek akan mendorong inflasi secara keseluruhan," kata Powell dalam konferensi pers. Dia juga menyebut jika tidak melihat kemajuan dalam penurunan inflasi, akan sulit untuk memangkas suku bunga.
Dalam rapat tersebut, para pejabat The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,4%, serta memproyeksikan inflasi inti naik ke 2,7%.
Ketiga, terkait fiskal. Di luar isu perang, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik juga terus berlanjut. Di tengah kondisi defisit dan potensi inflasi akibat kenaikan harga minyak, pemerintah belum mempertimbangkan pemangkasan anggaran.
Padahal, dengan selisih kenaikan harga minyak US$10 per barel dari angka yang ditetapkan dalam asumsi dasar APBN, Indonesia harus membayar lebih mahal dan dapat berkontribusi terhadap defisit sebesar Rp50 triliun.
Sebagai catatan, asumsi dasar harga minyak mentah dalam APBN sebesar US$70 per barel. Saat ini, harga minyak berada di atas US$100 per barel, artinya sudah ada selisih sebesar US$30 lebih mahal. Jika lonjakan harga minyak bertahan lebih lama, maka harga rata-rata minyak mentah juga akan terkerek naik.
Stabilitas Rupiah
Di tengah kombinasi tekanan dan domestik tersebut, ruang stabilisasi rupiah dalam jangka pendek terlihat makin sempit. Selama pasar domestik tutup, pergerakan di pasar offshore melalui kontrak derivatif NDF berpotensi tetap menjadi penentu arah ekspektasi, terlebih dengan kuatnya sentimen eksternal yang didominasi oleh lonjakan harga energi dan penguatan dolar AS.
NonDeliverable Forward alias NDF adalah sebutan yang merujuk pada kontrak derivatif mata uang dua belah pihak untuk mempertukarkan arus kas antara NDF dengan kurs spot yang berlaku. Satu pihak akan membayar pihak lain sebesar selisih yang dihasilkan dari transaksi tersebut.
Bank Indonesia (BI) dalam pemaparan setelah Rapat Dewan Gubernur pada Selasa (17/3/2026) menegaskan komitmennya untuk melakukan upaya stabilitas rupiah dengan intervensi, salah satunya di pasar NDF offshore. Efektivitas intervensi ini baru akan terlihat setelah pasar spot dibuka pada 25 Maret 2026 mendatang.
Namun, jika tekanan global tak kunjung mereda, khususnya dari sisi geopolitik dan lonjakan harga minyak masih terus terjadi, sepertinya upaya stabilisasi tersebut berisiko hanya bersifat sementara.
Pasar juga masih akan melihat kredibilitas kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas fiskal dan inflasi. Sebab, lonjakan harga minyak jika berlangsung lebih lama berpotensi memperlebar defisit sekaligus menekan daya beli. Hal ini tentu saja akan menciptakan tekanan ganda bagi perekonomian domestik.
Pelemahan Rupiah
Pergerakan rupiah di pasar offshore di level Rp17.000-an/US$ sebenarnya bukan hal baru. Pada libur panjang Lebaran tahun lalu, nilai kontrak rupiah terhadap dolar AS sempat menembus Rp17.171/US$ pada 8 April 2025 dan menjadi level terendahnya sejak era Covid-19.
Penyebab pelemahan rupiah berserta hampir semua mata uang Asia kala itu disebabkan oleh kebijakan tarif oleh Presiden AS Donald Trump terhadap China sebesar 50% yang mulai berlaku pada 9 April 2025. Genderang perang dagang yang ditabuh Trump kala itu menyebabkan gejolak di pasar keuangan Asia.
Bursa saham di China melemah. CSI 300 jatuh sebesar 4,8%, disusul oleh Chinext Index yang turun hampir 7%. Bursa saham di Taiwan juga amblas di mana indeks Taiex rontok 9,8% akibat saham-saham kakap semikonduktor juga Foxconn turun sampai 10%. Indeks MSCI Asia Pasifik juga jeblok sebesar 6,3%.
(dsp)





























