Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik di tengah melambungnya harga minyak global. 

Kedua, upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah menaikkan pagu subsidi BBM.

Adapun, anggaran subsidi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp210,1 triliun, naik 14,52% dibandingkan dengan outlook belanja subsidi pada APBN 2025 sebesar Rp183,9 triliun.

Secara terperinci, pemberian subsidi menyasar kepada komponen belanja Jenis BBM Tertentu dan LPG Tabung 3 kilogram sebesar Rp105,4 triliun dan listrik sebesar Rp104,6 triliun.

Namun, perlu dicatat bahwa pemerintah tak secara spesifik mematok subsidi Pertalite dalam APBN, melainkan membayarkan dana kompensasi. Harga Pertalite saat ini dibanderol Rp10.000/liter.

Untuk membayar selisih harga dengan keekonomiannya, pemerintah membayarkan dana kompensasi ke Pertamina selang beberapa waktu. Kementerian Keuangan melaporkan pembayaran kompensasi energi ke PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) mencapai Rp44,1 triliun pada Februari 2026. 

“Naikkan pagu Subsidi BBM. Keputusan yang sangat sulit. Keduanya sama pahitnya, tetapi harus dilakukan,” ujarnya. 

Hadi menilai kilang milik Pertamina berpotensi mengalami tekanan margin akibat konflik di Timur Tengah karena dua hal.

Pertama, perbedaan signifikan antara asumsi harga minyak sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar US$70/barel dengan rata-rata harga minyak saat ini di atas US$90/barel.

Kedua, Pertamina tidak bisa serta-merta mengubah harga produk hasil pengolahan kilangnya karena sudah terikat kontrak.

Harga keekonomian produk kilang, padahal, sudah melampaui kontrak imbas bahan baku yang naik signifikan dibandingkan dengan asumsi dasar.

Operasi Maksimal

Di sisi lain, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Mars Ega Legowo menyatakan perseroan mengoperasikan kilang dalam posisi maksimal. Dia menyatakan perseroan melakukan operasional dengan berorientasi pada tingkat produksi bukan pada profit kilang.

Mars Ega melaporkan stok minyak mentah di kilang perseroan mencapai 11—12 hari atau dalam kondisi normal, sedangkan produksi olahan minyak dalam kapasitas penuh yakni mencapai 1,1 juta barel per hari (bph).

Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada momen Lebaran 2026, sekaligus sebagai antisipasi dampak kondisi jalur perdagangan migas global di Selat Hormuz yang mengalami penutupan.

Nah, jadi kami mengutamakan availability sehingga kilang modenya adalah mode maksimalkan kuantitas produksi. Saat ini berproduksi kurang lebih 1,1 juta bph. Untuk pengadaan yang kita siapkan pada Januari, itu sebetulnya nanti pada Februari juga kita refill lagi, kita isi lagi. Nanti Maret kita pengadaan lagi, isi lagi,” kata Ega dalam konferensi pers Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri di Rest Area KM 57, Senin (16/3/2026).

-- Dengan asistensi Sultan Ibnu Affan

(dov/wdh)

No more pages