Investor yang tercatat sebagai pemegang saham pada recording date nantinya akan menerima pembayaran dividen sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh perusahaan. Dengan demikian, kepastian pencairan dividen menjadi salah satu hal yang ditunggu oleh pelaku pasar.
BNI menetapkan tanggal pembayaran dividen pada 7 April 2026. Artinya, para pemegang saham yang telah memenuhi syarat akan mulai menerima dana dividen pada awal April, tak lama setelah rangkaian libur panjang berlangsung.
Bagi banyak investor, jadwal ini dianggap memberikan keuntungan tambahan. Selain memperoleh potensi kenaikan harga saham, mereka juga mendapatkan pembagian laba perusahaan dalam bentuk dividen tunai.
Jadwal Cum Dividen dan Strategi Modal
Keputusan pembagian dividen ini merupakan hasil dari pembahasan dalam forum resmi pemegang saham. Persetujuan tersebut diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026.
Forum tahunan tersebut merupakan agenda penting bagi perusahaan. Dalam pertemuan itu, manajemen dan pemegang saham membahas berbagai kebijakan strategis terkait arah bisnis perusahaan ke depan.
Salah satu keputusan utama dalam rapat tersebut adalah penetapan pembagian dividen tunai kepada pemegang saham. Nilai dividen yang dibagikan mencerminkan kinerja positif perusahaan sepanjang tahun buku 2025.
BNI menetapkan total dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 65 persen dari laba bersih konsolidasian yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk.
Laba bersih konsolidasian yang menjadi dasar pembagian dividen tercatat sebesar Rp20,04 triliun. Dari total dividen yang dibagikan, setiap pemegang saham akan menerima Rp349,41 untuk setiap lembar saham yang dimiliki.
Besarnya nilai dividen ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memberikan imbal hasil kepada para pemegang saham. Pembagian laba tersebut juga mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang dinilai tetap sehat.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa keputusan pembagian dividen tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara imbal hasil bagi investor dan kekuatan fundamental perusahaan.
Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap berupaya memberikan nilai tambah bagi pemegang saham tanpa mengabaikan kebutuhan penguatan modal untuk ekspansi bisnis di masa depan.
“Keputusan ini merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk memberi nilai tambah bagi para pemegang saham, sekaligus memastikan kinerja perusahaan dapat terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.
Selain pembagian dividen, perusahaan juga menetapkan sebagian laba bersih sebagai laba ditahan. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BNI dalam memperkuat struktur permodalan.
Sebanyak 35 persen dari laba bersih atau sekitar Rp7,01 triliun dialokasikan sebagai saldo laba ditahan. Dana ini nantinya akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis perusahaan.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat industri perbankan terus mengalami perubahan dan dinamika yang cukup cepat. Penguatan modal memungkinkan perusahaan memiliki ruang ekspansi yang lebih luas di masa depan.
Dana laba ditahan juga dapat digunakan untuk memperkuat kapasitas pembiayaan dan mendukung pertumbuhan berbagai segmen bisnis perbankan. Dengan strategi tersebut, BNI berharap mampu menjaga kinerja perusahaan tetap stabil.
Kombinasi antara pembagian dividen dan penguatan modal dianggap sebagai strategi yang seimbang. Investor tetap memperoleh imbal hasil, sementara perusahaan tetap memiliki cadangan dana untuk pengembangan usaha.
Okki menegaskan bahwa perusahaan akan terus berupaya menjaga kinerja yang berkelanjutan. Fokus utama BNI ke depan adalah mempertahankan pertumbuhan sekaligus memperkuat struktur keuangan perusahaan.
“Ke depan, BNI akan terus memperkuat kinerja secara berkelanjutan sekaligus menjaga struktur permodalan yang solid agar mampu menciptakan nilai yang lebih optimal bagi para pemegang saham,” tutup Okki.
(tim)
































