"Selama perang dengan Iran terus berlanjut, harga minyak akan mendikte suasana pasar, dan berita utama dari Selat Hormuz akan menjadi penggerak utama," tulis Bob Savage, kepala strategi pasar di BNY. "Kekhawatiran pekan ini berpusat pada bagaimana para bank sentral menyikapi situasi tersebut."
Presiden Trump menyatakan rasa frustrasinya terhadap negara-negara lain yang sejauh ini belum berkomitmen secara terbuka untuk mengamankan transit kapal di selat tersebut. Trump juga mengungkapkan telah meminta China untuk menunda pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping selama sekitar satu bulan, agar dirinya bisa tetap berada di Washington untuk memantau jalannya perang Iran.
"Kemungkinan penundaan pertemuan AS-China ini bisa dianggap sebagai sinyal bahwa perang dengan Iran kemungkinan besar akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Hal ini bisa menjadi beban bagi pasar ekuitas," ujar Hideyuki Ishiguro, kepala strategi di Nomura Asset Management.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan masih memiliki cadangan darurat tambahan yang bisa dilepaskan jika diperlukan. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan kepada CNBC bahwa upaya menekan harga minyak bergantung pada durasi perang, namun ia memprediksi harga bisa turun ke bawah US$83 dalam beberapa bulan ke depan.
Meski penutupan efektif Selat Hormuz memaksa Uni Emirat Arab dan Kuwait mengurangi produksi, mulai terlihat sejumlah kecil kapal yang berhasil melewati jalur tersebut.
Di tempat lain, reli obligasi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS turun sekitar empat hingga enam basis poin di berbagai tenor. Produksi industri AS juga meningkat secara moderat pada Februari, didukung kenaikan di sektor manufaktur dan pertambangan. Investor kini mengalihkan perhatian pada keputusan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada Rabu. Para pengambil kebijakan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di tengah ketidakpastian akibat perang. Indeks harga produsen (IHP), salah satu indikator utama inflasi, juga dijadwalkan pada Rabu.
Selain itu, Bank of England, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan juga dijadwalkan bertemu pekan ini. Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) diprediksi luas akan menaikkan suku bunga di Sydney hari ini.
"Sebelum konflik pecah, data inflasi sebenarnya bergerak ke arah yang cukup positif," kata Daniela Hathorn, analis pasar senior di Capital.com, merujuk pada data indeks harga konsumen (IHK) AS pada Februari yang menunjukkan inflasi mulai melambat. Ia mengatakan bahwa bagi "beberapa ekonomi, terutama AS yang pertumbuhannya tetap kuat, masih ada ruang untuk menyerap dampak kenaikan harga energi".
(bbn)































