“Saya enggak tahu [kapan Perppu terbit], yang penting kita siapin semuanya. Sehingga, nanti pas ada skenario ABCD kan nanti, semuanya kita siap ABCD nanti. Itu tergantung ke Presiden nanti,” ujarnya.
“Tapi kalau misalnya kita nggak bisa hindarin, kita siap, itu aja. Tapi bukan berarti kita ke arah sana langsung, nggak, kita jaga semuanya. Kalau enggak enak banget kerja saya. Kita santai, ngutang lagi lebih banyak. Entar lu marah-marah lagi. Pemerintah ngutang terus, katanya.”
Dia menuturkan Kementerian Keuangan saat ini juga tengah mengoptimalisasi anggaran dari sejumlah program di kementerian maupun lembaga. Termasuk penerimaan pajak, pengelolaan kas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“[harga] minyak naik kan, batu bara naik, nikel juga naik. Kita lihat netnya berapa sih? Kenaikan beban anggarannya. Itu kan belum kelihatan sekarang, belum stabil. Jadi kita belum kelihatan sampai sekarang, tapi rasanya sih anggaran cukup bisa bertahan, kecuali naiknya tinggi sekali ya,” jelas Purbaya.
Di sisi lain, dia juga membantah ihwal tiga skenario pelebaran defisit APBN di atas 3% yang disebutkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Paripurna Kabinet Merah Putih akhir pekan lalu.
“Itu bukan skenario. Itu hitung-hitungan. Bukan skenario yang akan ditempuh. Bukan hanya hitungan, kalau ini begini, kalau ini begini. Tapi, skenario yang betul masih dihitung lagi,” ungkap Purbaya.
Sebelumnya, dalam Rapat Paripurna Kabinet Merah Putih, Airlangga memaparkan tiga skenario kondisi ekonomi Indonesia jika harga minyak dunia melonjak akibat konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Dalam paparan tersebut, Airlangga bahkan membuka peluang penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) untuk mengubah rasio defisit anggaran terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) melewati batas 3%, seperti diamanatkan dalam Undang-undang Keuangan Negara.
"Kita pernah melakukan Perppu, ada beberapa faktor yang perlu mungkin masuk di dalam Perppu yang sedang kita persiapkan. Soal timing itu tentu keputusan politik pak presiden, tapi keputusan Perppu saat Covid-19 pernah kami siapkan," ujar Airlangga.
Dalam laporannya, Airlangga memaparkan tiga skenario kondisi makroekonomi Indonesia di tengah dampak potensi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah.
"Dengan berbagai skenario ini, defisit 3% sulit dipertahankan, kecuali mau memotong belanja dan pertumbuhan. Ini berbagai skenario yang perlu kita rapatkan secara terbatas," kata Airlangga.
Berikut ketiga skenario yang disiapkan pemerintah:
Skenario I
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 5 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$86 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.000/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,3% dari target awal 5,4%. Yield SBN 6,9% dengan asumsi defisit APBN 3,18%.
Skenario II
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 6 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$97 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.300/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,23% dari target awal 5,4%. Yield SBN 7,2% dengan asumsi defisit APBN 3,53%.
Skenario III
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 10 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$115 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.500/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,2% dari target awal 5,4%. Yield SBN 7,2% dengan asumsi defisit APBN 4,06%.
Secara garis besar, ketiga skenario ini memperkirakan bahwa harga minyak mentah akan melonjak ke level US$90 per barel jika perang terjadi selama 5 bulan. Kemudian, harga minyak bisa menembus level US$107 per barel jika perang terjadi selama 6 bulan. Terakhir, harga minyak bahkan bisa melewati angka US$130 per barel jika terjadi selama 10 bulan, dengan level akhir US$125 per barel pada Desember mendatang.
(ell)


























