Logo Bloomberg Technoz

Sumber: Tim Riset Bloomberg Technoz, Bloomberg data 16 Maret

Valuasi IHSG masih lebih mahal ketimbang Bursa Saham PSEI (Filipina), SETI (Thailand), Straits Times (Singapura), KLCI (Malaysia), Shanghai Composite (China), hingga Kospi (Korea Selatan) berdasarkan PBV.

Mencermati valuasi PER, IHSG juga masih terbilang lebih mahal dibanding dengan bursa Kospi (Korea Selatan), PSEI (Filipina), dan juga Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam). PER adalah rasio antara kapitalisasi pasar dengan total laba dari seluruh konstituen pasar. Investor lazim menggunakan rasio ini untuk menentukan murah atau mahal valuasi pasar.

Sementara itu, PBV adalah rasio antara kapitalisasi pasar dengan total nilai buku ekuitas. Rasio di bawah 1 kali artinya kapitalisasi pasar lebih murah dibanding dengan total ekuitas, sedang rasio di atas 1 kali artinya terbilang relatif lebih mahal.

Di saat valuasi IHSG yang masih mahal dibanding dengan bursa saham lainnya di Asia. Risiko ketidakpastian masih menyelimuti dan kapan pasar akan kembali bangkit masih samar–samar.

Terbaru, serangan AS terhadap pusat ekspor utama Iran, Pulau Kharg, menandai eskalasi lain dalam perang yang berlangsung dua minggu. 

Pengeboman Pulau Kharg semakin memperluas cakupan konflik, yang menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pekan lalu telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Kementerian Perdagangan AS memprediksi perang Iran, yang mulai memasuki pekan ketiga, akan berlangsung antara empat hingga enam minggu. Kevin Hassett, Kepala Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, menyampaikan proyeksi tersebut dengan catatan keputusan final mengenai kapan perang akan usai ada di tangan Presiden. 

Pasar juga menunggu kepastian dan komitmen pemerintah menyoal disiplin fiskal tetap dengan batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akibat perang Iran. Kegelisahan pasar muncul pada saat lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan impor minyak, yang pada akhirnya dapat memperlebar tekanan terhadap neraca fiskal maupun nilai tukar. 

Riset Phintraco Sekuritas menyebut, kekhawatiran akan dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap inflasi, potensi melebarnya defisit APBN, berlanjutnya depresiasi rupiah, serta potensi perlambatan ekonomi domestik, menjadi faktor negatif yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

Kendatipun pemerintah dapat mengantisipasi legalitas dari defisit fiskal 3% PDB, lembaga rating seperti S&P, Moody's, dan Fitch rasnaya tidak akan memberikan toleransi.

Sovereign rating Indonesia berpotensi mengalami downgrade menjadi BBB- pada awal tahun depan atau akhir tahun ini, setelah Moody’s dan Fitch merilis laporan resmi mereka dengan outlook negatif untuk tahun ini,” tegas Laporan Mega Capital Sekuritas.

(fad/aji)

No more pages