Logo Bloomberg Technoz

Namun, posisi pelemahan rupiah yang relatif lebih rendah daripada mata uang lainnya memperlihatkan sedikit ketahanan. Sejumlah mata uang Asia mengalami dampak yang paling berat imbas kenaikan minyak seperti won Korea Selatan, rupee India, dan peso Filipina. 

Sementara, yuan China dan ringgit Malaysia relatif memiliki daya tahan terhadap lonjakan harga minyak. Begitu juga dengan Indonesia yang memiliki perusahaan minyak negara dan kemungkinan akan menanggung sebagian kenaikan harga energi, setidaknya pada tahap awal, sehingga dampak inflasi domestik lebih terbatas. Meski harga minyak telah melonjak sejak awal bulan, skema subsidi BBM belum mengalami kenaikan. 

Risiko Lanjutan

Namun, ketahanan ini bukan tanpa risiko. Jika kenaikan harga minyak berlangsung lebih lama, inflasi akan semakin ganas dan membuat ruang untuk stabilisasi rupiah menjadi semakin terbatas. 

Selain itu, tanpa adanya perubahan atau pemangkasan anggaran, kenaikan harga minyak dapat menambah risiko pelebaran defisit. Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, jika harga minyak bertahan lebih lama di atas US$90 per barel, dapat membuat pelebaran defisit menjadi 3,6%. 

Pekan depan, Bank Indonesia akan mengumumkan kebijakan suku bunga. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 4,75% seperti saat ini. 

Volatilitas rupiah yang cenderung tinggi ditambah inflasi yang belum cukup jinak sepertinya masih akan menjadi pertimbangan utama BI. 

(dsp)

No more pages