Selat Hormuz—jalur air vital yang menjadi rute bagi seperlima aliran minyak dan gas dunia—secara de facto telah tertutup sejak Israel dan AS memicu perang dengan melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, pembicaraan melalui jalur belakang antara Teheran dan sekutu AS masih jauh dari kata sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pembukaan kembali selat tersebut, di mana Iran mengancam akan menyerang setiap kapal yang lewat, telah menjadi inti dari berbagai kontak diplomatik dalam beberapa hari terakhir. Mediasi yang sedang berlangsung dipimpin oleh Arab Saudi, Oman, dan Turki, dengan dukungan negara-negara Eropa. Namun, Qatar dilaporkan telah mundur dari pembicaraan setelah berkali-kali menjadi sasaran serangan Iran.
Penutupan Selat Hormuz kini memukul pasar obligasi global dan memicu ketakutan akan tekanan inflasi yang cukup kuat, yang kemungkinan besar akan memaksa bank-bank sentral di dunia untuk menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump berada di bawah tekanan besar untuk segera membuka kembali Hormuz. Namun, sesaat sebelum pernyataan Khamenei dirilis, Trump menyatakan bahwa menghentikan Iran memiliki senjata nuklir jauh lebih penting daripada urusan harga minyak.
"Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, sejauh ini. Jadi, ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang," tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.
(bbn)



























