Sejumlah saham–saham konsumen non primer yang menjadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) yang amblas 14,9%, saham PT KFC Indonesia Tbk (FAST) yang jatuh 14,5%, dan saham PT Indospring Tbk (INDS) dengan penurunan 14,4%.
Senada, saham barang baku juga ikut menjadi beban i.a, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) turun 6,42%, saham PT Avian Brands Tbk (AVIA) drop 5,29%, dan saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) yang melemah 5%.
Saham LQ45 yang berisikan saham–saham unggulan juga ikut merah dengan terdepresiasi 0,14% ke posisi 751,18.
Saham–saham LQ45 yang bergerak pada zona merah hingga menjadi pemberat laju IHSG antara lain, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpeleset 6,23%, dan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun 5,73%.
Tren negatif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melemah 5,51%, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tergelincir 3,54%, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terdepresiasi 2,77%.
Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, sentimen negatif masih berasal dari berlangsungnya konflik AS vs. Iran yang menimbulkan harga minyak mentah kembali mengalami penguatan.
Kenaikan harga minyak mentah ini meningkatkan kecemasan akan potensi inflasi dan melebarnya defisit APBN, serta potensi defisitnya neraca perdagangan migas. Seperti diketahui, Harga minyak WTI menguat di atas level US$92/barel dan minyak Brent menguat hingga di atas level US$97/barel hingga sore hari ini (12/3/2026).
Laporan terjadinya serangan terhadap beberapa kapal tanker di sekitar Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah. Laporan ini muncul tidak lama setelah IEA mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah dalam skala terbesar dalam sejarahnya.
“Tidak ada tanda–tanda de-eskalasi di Teluk Persia membuat harga minyak mentah tetap diperdagangkan di harga tinggi, karena belum terlihat tanda–tanda akan berakhir gangguan aliran minyak di Selat Hormuz,” jelas analis Phintraco Sekuritas.
Keputusan IEA juga memberikan sinyal bahwa tingginya risiko gangguan suplai minyak, serta menunjukkan bahwa IEA tidak percaya perang ini akan segera berakhir.
Menyikapi masih tingginya ketidakpastian kapan perang ini akan berakhir, semakin meningkatkan risiko akan dampaknya terhadap kenaikan inflasi dan perlambatan ekonomi global.
“Secara teknikal, diperkirakan IHSG masih akan cenderung bergerak sideways menjelang libur panjang. IHSG diperkirakan akan bergerak pada kisaran 7.250–7.400,” papar Panin dalam risetnya, Kamis.
Adapun Panin Sekuritas menyebut, sikap investor yang tengah wait–and–see terhadap perkembangan eskalasi di Timur Tengah, terutama mengenai aktivitas Selat Hormuz. Adapun pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh pergerakan Bursa Asia dan AS yang cenderung melemah.
“Kini, pasar kembali mencermati risiko inflasi global yang didorong oleh harga minyak global yang tinggi dalam periode yang persisten,” terang Panin.
(fad)































