Mengutip paparan Axell Ebenhaezer dan Kevin Pratama dari NH Korindo Sekuritas, volume batu bara metalurgi CUAN diestimasikan bakal terus meningkat, mengerek fundamental perusahaan ke tren ekspansif.
“CUAN diprediksi akan meningkatkan produksi batu bara metalurgi (met-coal) secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, seiring PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) yang meningkatkan kapasitas produksi serta PT Daya Bumindo Karunia (DBK) yang mulai beroperasi,” terang NH Korindo.
Produksi met-coal tercatat mencapai 200 ribu ton pada 2024, dan diproyeksikan angka ini telah melonjak melampaui 1 juta ton pada tahun penuh 2025.
Ke depan, lanjut Axell dan Kevin, produksi met-coal CUAN diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2 juta ton pada 2026, dengan asumsi kondisi cuaca mendukung, dan berpotensi mencapai 5 juta ton per tahun pada kapasitas puncak setelah DBK mulai berproduksi pada 2027.
“Dengan peningkatan produksi tersebut, CUAN berpotensi memaksimalkan peluang di pasar premium batu bara metalurgi yang relatif lebih tahan terhadap fluktuasi harga, sekaligus mendorong pertumbuhan laba yang kuat dalam beberapa tahun mendatang,” tulisnya dalam riset yang sama.
Terlebih lagi, CUAN juga telah menyelesaikan sejumlah akuisisi strategis guna memperkuat dan mempersolid kinerja perusahaan keseluruhan. Salah satunya adalah akuisisi 90% saham PT Guna Darma Integra (GDI), perusahaan yang tengah mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) berkapasitas 680 MW di Feni Haltim Industrial Park.
“Proyek ini berpotensi menghasilkan pendapatan tahunan sekitar US$328 juta mulai 2028, dengan margin EBITDA menyentuh 40%. Kami memperkirakan HBS akan langsung berkontribusi sekitar US$83 juta terhadap pendapatan dan US$25 juta EBITDA pada 2026, sekaligus mengindikasikan potensi langkah CUAN ke depan untuk memperkuat segmen pertambangan emas dan mineral,” papar NH Korindo Sekuritas.
Valuasi saham CUAN pun terhitung amat atraktif. Rekomendasi beli saham CUAN, rating buy sangat tepat, dengan target harga yang berpotensi mencapai Rp2.500/saham. Target harga tersebut merefleksikan forward P/E sebesar 85,5x, yang masih lebih rendah dari rata–rata deviasi standar P/E perusahaan dalam satu tahun perdagangan.
(fad)





























