Logo Bloomberg Technoz

Tekanan siang ini juga terjadi di pasar obligasi domestik. Surat Utang Negara (SUN), siang ini kembali mengalami aksi jual siang ini, terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) SUN pada hampir semua tenor. 

Yield tenor 1Y menjadi 5,48%, tenor 2Y naik 6 bps menjadi 5,91%, yield 3Y naik menjadi 5,98%, tenor 4Y naik tertinggi sejak Juli 2025 menjadi 6,2%. Tenor 10Y yang sering menjadi acuan juga naik 4,1 bps menjadi 6,75%.

Meski demikian, beberapa tenor masih mencatatkan pembelian, tercermin dari penurunan yield pada tenor 1Y, 12Y, 13Y, 16Y, dan 30Y. 

Investor asing terus melepas aset kepemilikan SUN di pasar domestik sejak Selasa (10/3/2026) dan melepas sebanyak US$183,6 juta secara harian dan US$242 juta secara mingguan. Arus keluar modal tersebut semakin menambah tekanan pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan lonjakan harga energi. 

Tekanan ini yang terjadi juga tidak lepas dari kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Investor masih mencermati risiko pelebaran defisit anggaran, termasuk kemungkinan penurunan peringkat utang, sehingga tingkat kepercayaan terhadap aset domestik belum sepenuhnya pulih. 

Isu fiskal juga kembali menjadi sorotan setelah pemerintah memastikan bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dipangkas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan anggaran program tersebut tetap dipertahankan, namun pemerintah meminta Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan anggaran.

Dalam pandangan analis, arah penguatan rupiah ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan dua faktor utama: kondisi fiskal domestik dan pergerakan dolar AS di pasar global.

"Rupiah yang lebih kuat pada akhirnya sangat bergantung pada perbaikan disiplin fiskal atau pelemahan dolar AS yang berlangsung secara berkelanjutan," sebut laporan Bloomberg Intelligence yang disusun oleh analis Chunyu Zhang dan Stephen Chiu.

(dsp/aji)

No more pages