“Dengan demikian ini masih di bawah asumsi APBN kita yang US$70 [per barel] shock absorber, supaya dampaknya kepada masyarakat itu selalu kita batasi, supaya tidak mempengaruhi reliability masyarakat.” katanya.
Sebagai informasi, di awal pekan ini harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melonjak 19% menjadi US$107,82 per barel. Secara mingguan, kontrak berjangka minyak bahkan mencatat reli hingga 36% pada pekan lalu, atau menjadi kenaikan terbesar dalam sejarah.
Meski sempat mencatatkan penurunan, namun sore ini harga minyak Brent kembali terapresiasi 2,44% menjadi US$89,94 per barel.
Sementara itu, belanja negara hingga 28 Februari 2026 telah mencapai Rp493,8 triliun atau tumbuh 41,9% (yoy). Belanja ini berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 346,1 triliun, serta transfer ke daerah Rp 147,7 triliun. Dengan kondisi tersebut, APBN mengalami defisit 0,53% pada Februari 2026.
(ell)




























