Rentetan uji coba senjata baru ini terjadi saat AS dilaporkan memindahkan aset militernya, termasuk baterai rudal Patriot dan bagian dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), ke Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran akan melemahnya kemampuan penangkalan terhadap Korut yang bersenjata nuklir.
Presiden Korsel Lee Jae Myung mengonfirmasi pada hari Selasa bahwa Seoul keberatan dengan langkah AS memindahkan aset pertahanan udara dari Semenanjung Korea. Namun, ia menyatakan Seoul tidak bisa mencegah Washington memposisikan ulang senjatanya sesuai kebutuhan militer mereka sendiri.
“Terlepas dari apakah beberapa aset Pasukan AS di Korea (USFK) dikerahkan ke luar negeri, sama sekali tidak ada masalah dengan kemampuan penangkalan kami terhadap Korea Utara, mengingat kemampuan militer kami, tingkat pengeluaran pertahanan, kapasitas industri pertahanan, dan moral yang tinggi dari para prajurit kami,” tegas Kementerian Pertahanan Korsel dalam pernyataannya kepada Bloomberg News.
Stasiun televisi Korea Selatan, SBS, melaporkan bahwa sejumlah peluncur sistem pertahanan udara THAAD terlihat dipindahkan keluar dari pangkalan Seongju pekan lalu. The Washington Post juga melaporkan sebelumnya bahwa Pentagon tengah memindahkan bagian-bagian sistem THAAD dari Korsel ke Timur Tengah.
“Risiko keamanan bagi Korea Selatan tidak terlalu tinggi jika hanya beberapa baterai pertahanan rudal yang dipindahkan, mengingat sistem pertahanan udara AS dan Korea Selatan yang sudah ada saat ini,” kata Andrew Yeo, peneliti senior di Brookings Institution. “Namun, penarikan lebih banyak baterai Patriot atau THAAD dapat menciptakan celah kerentanan terhadap serangan rudal dari Korea Utara.”
Saat ini, AS menempatkan sekitar 28.500 tentara dan berbagai sistem pertahanan rudal, termasuk baterai Patriot, di Korsel.
Uji coba terbaru Pyongyang ini juga bertepatan dengan latihan militer tahunan musim semi antara AS dan Korsel. Pyongyang telah lama mengecam latihan tersebut sebagai latihan persiapan perang. Menariknya, latihan tahun ini menampilkan lebih sedikit manuver lapangan dibandingkan tahun lalu, yang diduga sebagai upaya Seoul untuk meredakan ketegangan.
Kim Jong Un telah menginstruksikan para pejabatnya untuk melengkapi kapal perang yang lebih besar dengan sistem senjata supersonik di masa depan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perombakan Angkatan Laut Korut yang selama ini didominasi oleh kapal-kapal kecil untuk pertahanan pesisir. Kapal perusak baru tersebut dirancang untuk memperluas daya tembak negara itu di Laut Kuning di wilayah barat dan wilayah perairan timur ke arah Jepang.
(bbn)





























