Para peneliti menilai psilocybin efektif karena memengaruhi sistem psikologis, mengubah persepsi diri, dan memengaruhi perilaku, alih-alih menargetkan gejala putus nikotin atau mengubah cara kerja nikotin di dalam tubuh.
Secara biologis, zat psikedelik untuk sementara mengubah pola komunikasi di otak dan dapat meningkatkan neuroplastisitas—kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru—kata peneliti utama Matthew Johnson, profesor farmakologi perilaku di Johns Hopkins University.
“Selama pengalaman tersebut, otak berkomunikasi dengan dirinya sendiri dengan cara yang sangat berbeda,” jelasnya.
Meskipun beberapa peserta merasa tertarik dengan efek psikedelik, sebagian besar sebenarnya hanya sangat ingin berhenti merokok, kata Johnson. Merokok menyebabkan sekitar 480.000 kematian setiap tahun di Amerika Serikat dan lebih dari 8 juta kematian secara global, menurut data yang disertakan dalam studi tersebut.
“Mereka mengatakan hal-hal seperti, ‘Saya sudah mencoba segala cara,’” kata Johnson. Hasil penelitian itu, tambahnya, bahkan lebih baik dari yang diperkirakan.
Ia menekankan bahwa meskipun psilocybin tidak menimbulkan ketergantungan fisik, zat tersebut bisa disalahgunakan dan memerlukan pengawasan yang cermat. Para peserta dipantau sepanjang pengalaman yang berlangsung lima hingga enam jam, dengan staf medis yang siap siaga. Tidak ada kejadian buruk serius yang dilaporkan, meskipun beberapa peserta mengalami peningkatan tekanan darah sementara atau kecemasan yang intens.
“Orang bisa merasa sangat cemas, bahkan ketakutan selama pengalaman itu,” kata Johnson.
Minat yang Meningkat
Ini merupakan studi kecil yang dibangun dari uji coba percontohan sebelumnya yang dilakukan oleh Matthew Johnson, tetapi temuan tersebut menunjukkan bahwa terapi berhenti merokok dengan bantuan psilocybin layak diuji dalam penelitian yang lebih besar dan lebih beragam. Meski demikian, pendanaan untuk terapi berbantuan psikedelik masih tertinggal. Dari 2006 hingga 2020, National Institutes of Health tidak memberikan dukungan hibah langsung untuk uji klinis independen mengenai penggunaan psikedelik sebagai terapi.
“Seluruh industri psikedelik ini bahkan belum ada ketika saya memulai bidang penelitian ini,” katanya.
Kini, beberapa perusahaan berupaya menghilangkan citra kontra-budaya yang melekat pada psikedelik dan mengejar persetujuan dari US Food and Drug Administration untuk perawatan berbasis psilocybin.
Minat politik juga meningkat. Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. telah menyatakan dukungannya untuk memperluas akses psikedelik bagi para veteran yang mengalami Post‑Traumatic Stress Disorder, dan mengatakan bahwa pemerintahan Donald Trump ingin membuat perawatan semacam itu tersedia di lingkungan klinis tahun ini.
Johnson mengatakan pengembangan komersial yang bertanggung jawab kemungkinan diperlukan untuk mendanai uji coba besar yang dibutuhkan guna memperoleh persetujuan FDA. Meski beberapa akademisi khawatir terhadap motif keuntungan dalam pengobatan psikedelik, ia berpendapat bahwa keterlibatan industri dapat mempercepat akses selama standar keselamatan tetap dijaga.
“Ini berpotensi membantu jutaan orang, tetapi kita harus berhati-hati dan mengikuti jalur persetujuan FDA,” katanya.
(bbn)
































