Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps, terutama saham ASII.
Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (10/3/2026)
- Astra International (ASII) menyumbang 9,24 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) menyumbang 7,49 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 7,13 poin
- Merdeka Battery Materials (MBMA) menyumbang 6,26 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang 4,97 poin
- Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 3,89 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 3,04 poin
- Bayan Resources (BYAN) menyumbang 2,8 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 2,63 poin
- Bumi Resources (BUMI) menyumbang 2,6 poin
Adapun saham–saham barang baku lainnya juga jadi pendorong laju melesatnya IHSG, saham PT Timah Tbk (TINS) melesat dengan kenaikan 9,36%, dan saham PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) juga melesat di zona hijau dengan menguat 6,31%.
Disusul oleh penguatan saham barang baku lain, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang menguat 5,97%, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melesat 5,12%, dan saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) yang mencetak penguatan 4,79%.
Saham–saham perindustrian juga jadi pemicu penguatan IHSG, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melesat 4,86%, dan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) juga menguat dengan terapresiasi 1,27%.
Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah menjadi sentimen amat positif bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan tengah hari di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp16.884. Rupiah menguat 0,36% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga menempati level terkuatnya mencapai Rp16.865/US$ pada pagi tadi, hingga berhasil mencatatkan level terkuat mencapai lebih dari 0,41%.
Penguatan rupiah hari ini menjadi salah satu yang terbesar di Asia, posisi ke–empat terbaik.
Bersama Baht Thailand yang menguat nilainya 1,02%, ringgit Malaysia terapresiasi 0,79%, Philippine Peso yang solid menguat 0,47%, hingga dollar Taiwan yang menguat mencapai 0,32%.
Rupiah dan valuta Asia nyaman di zona hijau terdorong sentimen dolar AS sedang melemah tajam. Pada perdagangan siang hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah ke posisi 98,836, yang mencatat pelemahan 0,34% point–to–point.
Penguatan rupiah sepanjang hari ini terutama didorong oleh tebalnya harapan pasar terhadap pernyataan Presiden Donald Trump yang memberi sinyal konflik dengan Iran bisa saja segera usai dan operasi militer berjalan lebih cepat dari rencana dengan cepat mengirim perubahan sentimen terhadap harga minyak mentah dunia dan berdampak pada penguatan mata uang di Asia siang hari ini.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, pergeseran optimisme pasar ini dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebut konflik dengan Iran akan tuntas ‘segera’ Terlebih lagi, Presiden AS mendeskripsikan tujuan militer AS saat ini sudah ‘hampir selesai sepenuhnya’
Efeknya, saat rupiah menguat, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan bisa terpangkas. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah.
Pada nantinya, berpotensi membuat bertambahnya nilai laba bersih perusahaan. Ketika laba emiten mencatat pertumbuhan, investor bisa berharap menikmati datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad/wep)






























