Logo Bloomberg Technoz

Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps, terutama jelang penutupan perdagangan hari ini.

Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Senin (9/3/2026).

  1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 15,77 poin
  2. Bayan Resources (BYAN) mengurangi 14,4 poin
  3. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 13,92 poin
  4. Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 12,93 poin
  5. Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 12,46 poin
  6. Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 11,88 poin
  7. Astra International (ASII) mengurangi 11,3 poin
  8. Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 9,5 poin
  9. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 7,81 poin
  10. Pertamina Gas Negara (PGAS) mengurangi 7,53 poin

Adapun saham–saham LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) drop 7,69%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terpeleset 7,66%, dan saham PT Indosat Tbk (ISAT) juga melemah dengan kehilangan 7,41%.

Disusul oleh pelemahan saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang turun 6,62%, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melemah 6,52%, dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang mencetak pelemahan 5,59%.

Analis Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah di level 7.337,37 pada perdagangan Senin, setelah sempat menyentuh level terendahnya 7.156. Penutupan Selat Hormuz membuat para produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksinya karena kekurangan tempat penyimpanan minyaknya karena tidak dapat mengirimkan produksinya ke pelanggan. 

“Akibatnya harga minyak mentah meningkat tajam di atas level US$100/barel, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi inflasi dan perlambatan ekonomi global,” papar Phintraco, Senin.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi menguji kembali level 7.200–7.300, jika masih cukup kuat ada peluang menguji resistance di 7.4.00-7.480. 

“Sementara itu para Menteri Keuangan negara G7 dijadwalkan membahas kemungkinan pelepasan cadangan darurat minyak secara bersama-sama. Penarikan cadangan strategis ini sebelumnya pernah dilakukan sebanyak lima kali, diantaranya ketika invasi Rusia ke Ukraina, gangguan pasokan di Libya, badai Katrina dan selama Perang Teluk pertama,” tutup Phintraco.

(fad)

No more pages