Logo Bloomberg Technoz

“Karena kita melihat rantai [pasok] EV berbasis MHP masih cukup panjang dari MHP tersebut untuk menuju ke sebuah battery packing.  Jadi bagaimanapun kita berkoordinasi dengan pemerintah, bagaimana tetap mewujudkan ekosistem baterai terintegrasi yang ada di Indonesia,” tegasnya.

Produk turunan nikel, mixed hydroxide precipitate (MHP), produksi Harita Nickel./Bloomberg-Dimas Ardian

Budiawansyah meyakini Vale yang turut memiliki tambang nikel, bakal berperan sebagai industri jangkar dalam pengembangan rantai pasok baterai EV.

Apalagi, seluruh rantai industri tersebut tak dapat beroperasi jika pasokan bijih dari hulu terganggu.

“Jadi kan tanpa anchor ini, maka downstream itu akan susah berkembang ya. Jadi apa yang inti yang akan mau dikelola kan. Makanya [hal] yang pertama dihadirkan itu adalah anchor industry-nya,” kata dia.

Bagaimanapun, Budiawansyah menyatakan Vale terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait dengan pengembangan ekosistem baterai di dalam negeri.

Dia menyatakan MHP yang dihasilkan dari proyek Pomalaa masih memiliki perjalanan yang panjang jika ingin diolah kembali agar semakin hilir.

“Kalau saya melihat kebijakan dari pemerintah sih, hilirisasi itu akan dibuka ya. Apalagi, sudah ada MHP di situ ya. Tinggal sekarang teknologi untuk menghadirkan teknologi presukor saya kira sudah ada di Tanjung Weda itu ya, sudah ada. Sehingga itu adalah menjadi sinyal positif untuk membentuk sebuah ekosistem itu nanti,” ujarnya.

Berdasarkan data per Desember 2025, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menjadi sorotan karena nilai investasinya yang terbesar, mencapai US$4,5 miliar, melalui kolaborasi dengan Ford dan Huayou.

Hingga saat ini, progres konstruksi pabrik HPAL di lokasi tersebut telah mencapai 50%, sementara pembangunan sektor tambang menyentuh 60%.

Proyek tersebut diklaim menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 dengan kapasitas sebesar 120.000 ton MHP per tahun.

Dalam perkembangannya, pada 28 Februari 2026 Vale telah menjual bijih nikel pertama dari tambang di proyek tersebut. Perseroan menargetkan produksi 300 ribu ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari.

Adapun, terdapat sejumlah proyek ekosistem baterai yang tengah digarap Indonesia. Bahkan, pabrik baterai EV tersebut ada yang ditargetkan beroperasi pada semester I-2026.

Proyek pabrik sel baterai kendaraan listrik berkapasitas 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun yang dikembangkan oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026.

CATIB sendiri merupakan perusahaan patungan antara PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan porsi saham 30% dan konsorsium yang dipimpin raksasa baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dengan saham mencapai 70%.

Pabrik ini nantinya akan memproduksi sel, modul, dan paket baterai sekaligus battery energy storage system (BESS), yang ditujukan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan di Indonesia.

Pada tahap awal, kapasitas produksi sebesar 6,9 GWh akan meningkat menjadi 15 GWh ditahap kedua.

Pabrik baterai yang termasuk dalam Proyek Dragon—yakni kerja sama IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam, dengan konsorsium CATL dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) — diklaim sudah mendapatkan calon pembeli atau offtaker baterainya.

Di sisi lain, IBC dan Antam baru saja menandatangani  kerangka kerja sama atau framework agreement proyek Titan bersama dengan konsorsium Huayou di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Konsorsium pimpinan Huayou dengan nama HYD Investment Limited itu terdiri dari Huayou, EVE Energy Co., Ltd. dan PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ).

Nilai investasi ekosistem baterai listrik dengan kode proyek Titan itu mencapai US$6 miliar. Adapun, kapasitas produksi baterai ditarget mencapai 20 GWh. Nantinya, pabrik prekursor katoda dari proyek tersebut bakal dibangun di Jawa Barat. 

Sementara itu, smelter hidrometalurgi berbasis HPAL proyek tersebut direncanakan dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara. Lebih lanjut, nikel yang dipasok untuk smelter tersebut akan bersumber dari tambang milik Antam.

(azr/wdh)

No more pages