Logo Bloomberg Technoz

Tekanan juga terlihat pada bursa saham di Asia. Indeks Kospi di Korea Selatan, yang sebelumnya menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik secara global pada tahun ini, tercatat telah merosot lebih dari 18% dari level tertingginya dalam beberapa waktu terakhir.

Penurunan indeks tersebut terjadi seiring pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti Samsung Electronics Co., SK Hynix Inc., dan Hyundai Motor Co., di tengah aksi jual yang meluas ketika investor cenderung menghindari aset berisiko.

Di pasar valuta asing, indeks mata uang negara berkembang versi MSCI juga turun hingga 0,8%. Pelemahan dipimpin oleh won Korea Selatan, sementara peso Filipina dan rupiah Indonesia tercatat menyentuh level terendah terhadap dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks kekuatan dolar AS menguat seiring lonjakan harga minyak yang menembus level US$100 per barel. Kenaikan harga energi tersebut mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

Head of Markets Macro Strategy BNY Bob Savage mengatakan arah pergerakan pasar dalam jangka pendek kemungkinan lebih dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah dibandingkan faktor fundamental domestik.

“Dalam jangka pendek, arah pasar kemungkinan lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah dibandingkan fundamental domestik, terutama melalui pergerakan harga energi dan sentimen risiko,” tulis Savage dalam catatannya, dikutip Senin (9/3/2026).

Ia menambahkan negara-negara yang bergantung pada impor energi berpotensi menghadapi tekanan apabila lonjakan harga energi berlangsung dalam periode yang lebih panjang.

“Negara-negara pengimpor energi bersih seperti Jepang, Korea Selatan, dan India tetap rentan terhadap guncangan terms of trade apabila kondisi ini berlangsung secara berkelanjutan.”

(dhf)

No more pages