“Jika guncangan harga minyak berlangsung cukup lama sehingga menekan pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi, maka kita bisa kembali melihat situasi seperti periode 2021–2023 ketika saham dan obligasi sama-sama mengalami aksi jual,” kata strategis Morgan Stanley.
Sebagai catatan, akibat perang Timur Tengah 200 kapal tanker minyak tertahan di Teluk Persia, tak bisa melanjutkan perjalanan ke Teluk Hormuz, lantaran perang masih berlanjut. Kondisi ini mengancam rantai pasok minyak global dan telah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah.
Dari dalam negeri, pernyataan Menteri ESDM yang menyebut harga BBM bersubsidi tetap alias tidak mengalami kenaikan justru membuat pelaku pasar semakin khawatir dengan kondisi fiskal. Dengan asumsi harga minyak di APBN 2026 yang tercatat US$70 per barel, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$15 bisa menyebabkan kenaikan belanja subsidi sebesar Rp150 triliun dalam setahun.
Kenaikan harga minyak ini berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi memperlebar defisit perdagangan minyak dan meningkatkan kebutuhan impor energi, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Kondisi ini dapat membuat rupiah bergerak lebih volatil, terutama jika sentimen global masih dibayangi ketegangan geopolitik.
Volatilitas rupiah dalam sebulan terakhir tak lepas dari intervensi bank sentral. Hari ini Bank Indonesia akan mengumumkan cadangan devisa yang pada Januari masih tercatat berada di US$154,6 miliar atau sekitar Rp2.596 triliun. Cadangan ini setara dengan 6,1 bulan pembayaran ekspor dan utang luar negeri.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan harga minyak bertahan di level tinggi, tekanan terhadap pasar domestik berpotensi semakin besar. Bukan hanya karena dampaknya terhadap inflasi dan subsidi energi, tetapi juga karena meningkatnya kebutuhan stabilisasi nilai tukar.
Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada langkah Bank Indonesia menahan gejolak di pasar, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga kondisi keuangan negara tetap sehat. Tanpa arah kebijakan yang jelas, pelaku pasar akan terus mencermati apakah kenaikan harga energi dunia hanya bersifat sementara atau justru menjadi tekanan yang lebih panjang bagi perekonomian domestik.
Dengan begitu, dalam jangka pendek, pergerakan rupiah kemungkinan masih akan berada dalam tekanan selama harga minyak bertahan di level tinggi dan dolar AS tetap kuat.
(dsp/aji)





























