Tekanan pasar dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus memanas. Situasi semakin memicu kekhawatiran investor setelah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Penutupan jalur tersebut memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian memperkuat sentimen negatif di pasar saham.
Pemberat Indeks
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ambles dengan kehilangan 264,17 poin atau melemah mencapai 3,33% di posisi 7.675,91 pada perdagangan Sesi I Rabu (4/3/2026) per pukul 11.00 WIB.
Sepuluh menit usai pembukaan perdagangan pagi tadi IHSG juga langsung ambles 1%, turbulensi semakin dalam pada perdagangan jelang siang hari hingga 4% lebih secara point–to–point.
Adapun rentang perdagangan sepanjang hari melaju pada area level 7.897,81, dengan titik terendah pagi–siang ini mencapai 7.584,85.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai perdagangan menyentuh Rp15,64 triliun dari sejumlah 30,5 miliar saham yang ditransaksikan, dengan dominasi aksi jual yang masif. Dengan frekuensi 1,8 juta kali.
Sejumlah saham menjadi pemberat (laggard) IHSG. Berikut 10 saham laggard berdasarkan data Bloomberg.
- Telkom Indonesia (TLKM) membebani 17,94 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) membebani 14,46 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) membebani 13,92 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) membebani 12,73 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) membebani 9,36 poin
- Bank Mandiri (BMRI) membebani 7,79 poin
- Bank Central Asia (BBCA) membebani 7,13 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) membebani 7,01 poin
- Barito Pacific (BRPT) membebani 6,04 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membebani 4,73 poin
(fik/naw)



























