Logo Bloomberg Technoz

Masih Soal Geopolitik, Waspadai Support IHSG

Muhammad Fikri
04 March 2026 08:15

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak dalam tekanan jangka pendek, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas pasar energi dan aksi jual investor asing.

Pada perdagangan Selasa (3/3/2026), IHSG ditutup melemah 0,96% ke level 7.939,7. Indeks sempat rebound pada awal sesi, namun tekanan jual kembali meningkat sehingga IHSG turun lagi di bawah level psikologis 8.000.

Analisis BRI Danareksa Sekuritas mencatat pelemahan terutama dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki hari keempat dan memicu kekhawatiran eskalasi lebih luas.


Kenaikan harga minyak mempertegas sentimen risk-off di pasar global. Minyak mentah AS naik ke level US$71,33 per barel, sementara Brent menjadi US$78,07 per barel. Data Kepler menunjukkan lebih dari 14 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang tahun lalu—setara hampir sepertiga total ekspor minyak laut dunia—menjadikan jalur tersebut sangat vital bagi stabilitas energi global.

Kondisi ini mendorong bursa Asia kompak melemah dan meningkatkan volatilitas di pasar domestik.