Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, rupiah melakukan perlawanan terhadap penguatan dolar AS setelah sempat menyentuh level tinggi dalam perdagangan sesi siang tadi. Meski begitu, penguatan terbatas ini masih akan diuji pasar. 

Sebagai negara pengimpor minyak mentah, kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang terbuka antara AS-Israel dan Iran, dibaca sebagai premi risiko bagi pasar domestik, khususnya terkait fiskal. Kenaikan harga komoditas dapat menggerus neraca dagang RI lantaran imported inflation atau kenaikan biaya impor. 

Dengan kondisi tersebut, investor cenderung menghindari eksposur terhadap rupiah. Hal ini juga terjadi pada pasar surat utang domestik. Pada perdagangan sore, nilai imbal hasil kembali terkerek naik menandakan terjadinya tekanan jual. 

Surat utang tenor 5Y mengalami kenaikan imbal hasil 4,5 bps menjadi 5,92% dan berada di level tertingginya sejak tiga bulan lalu. Imbal hasil surat utang tenor 1Y juga naik 6 bps menjadi 5,2%. Bahkan surat utang tenor 10Y juga terkerek naik 6,7 bps menjadi 6,52% dan menandakan posisi tertingginya sejak September 2025 yang sempat berada di level 6,42%. 

Di tengah kondisi tersebut, data-data ekonomi domestik juga belum sepenuhnya mendukung laju penguatan rupiah. Inflasi tercatat melambung 4,76% yoy pada Februari di atas perkiraan para ekonom yaitu 4,3% yoy. Sedangkan capaian ekspor justru lebih rendah dari ramalan sebesar 11,04% yoy dan hanya terealisasi 3,39% yoy.  

Kombinasi inflasi yang tinggi dan ekspor yang belum sesuai ekspektasi membentuk sentimen domestik yang cenderung defensif. Agaknya penguatan terbatas rupiah sore ini merupakan respons Bank Indonesia yang melakukan operasi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar. 

(dsp/aji)

No more pages