Menurut dia, pemerintah juga memantau dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. Dia mengklaim fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.
"APBN akan terus dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3% PDB,” ujar Febrio.
Data Ekonom Diklaim Bagus
Febrio menyatakan kinerja manufaktur Indonesia melanjutkan tren ekspansif pada Februari 2026, dibuktikan dengan data PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8 (Januari 2026: 52,6). Menurut dia, penguatan ini didorong oleh lonjakan permintaan baru yang diimbangi pertumbuhan produksi secara signifikan.
“Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis. Berbagai upaya untuk menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian domestik akan terus didorong, terutama melalui stimulus fiskal, iklim investasi, dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Febrio.
Pada Januari 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 7,9% (yoy), didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman, sandang, dan mobilitas masyarakat. Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1% dan penjualan mobil tumbuh 7,0%.
Selain itu, optimisme masyarakat tetap terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang berada pada level optimis 127, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya di 123,5.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Indonesia menyempit menjadi US$950 juta, melanjutkan kinerja baik yang sudah terjadi sejak Mei 2020. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai US$22,16 miliar atau tumbuh 3,39% (yoy), didorong oleh ekspor nonmigas.
Kinerja ekspor nonmigas didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,19% (yoy), utamanya minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta komoditas bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan elektronik. Sementara itu, impor tercatat sebesar US$21,20 miliar atau tumbuh 18,21% (yoy), didominasi kenaikan bahan baku dan barang modal, sejalan dengan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.
Dari sisi harga, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% (yoy), utamanya dipengaruhi kebijakan diskon listrik pada awal tahun 2025. Dengan mengeluarkan dampak diskon listrik di awal tahun 2025, inflasi Februari 2026 diperkirakan 2,59%.
(lav)





























