Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot menyusut 0,34% di level Rp16.828/US$, dan menempati posisi ketiga dalam pelemahan di pasar mata uang Asia hari ini. Tak berselang lama setelah dibuka, rupiah kembali susut menjadi 0,36% ke posisi Rp16.831/US$.
Kembali menguatnya indeks dolar terhadap enam mata uang dunia, sebesar 0,19% ke 97,82 membuat mata uang Asia juga tak banyak berkutik.
Penyusutan terdalam dipimpin oleh peso Filipina yang tergerus 0,61%, disusul dolar Taiwan 0,55%, lalu rupiah menyusut 0,34%, dan baht Thailand 0,30%. Begitu juga ringgit Malaysia menyusut 0,28%, yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing susut 0,13%. Kemudian, yuan China susut 0,08% diikuti dengan yuan offshore-nya 0,05%. Hanya dolar Hong Kong yang menguat, itu pun tipis saja, 0,01%
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin memanas, aset safe haven kembali diburu dan membuat indeks dolar AS terangkat naik lagi sebesar 0,41% hampir kembali menyentu level 98-an.
Perang terbuka di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama setelah harga minyak sempat melonjak tajam. Kenaikan harga minyak tidak hanya memicu risiko inflasi global, tetapi juga mempersempit ruang kebijakan moneter di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks ini, tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Pelemahan mayoritas mata uang Asia menunjukkan bahwa arus modal cenderung keluar dari emerging markets dan kembali ke dolar AS.
(lav)






























