"Itu juga ada kelanjutan hilirisasinya dari industri logam itu untuk peralatan-peralatan atau ini industri barang modal apa yang bisa sama-sama dikembangkan. Ini poin yang kedua," tegas Yuliot.
Terakhir, nota kesepahaman tersebut akan turut memuat kerja sama riset dan inovasi dalam pemanfaatan energi antara Indonesia dan India.
"Dalam pembahasan, dari India itu akan menyampaikan draf MoU. Kemudian, kita juga akan konsultasi dengan kementerian luar negeri yang terkait dengan kerangka MoU yang akan dibahas dan juga akan ditindaklanjuti penandatanganan antarmenteri, Menteri ESDM dengan Menteri Logam India," ungkapnya.
Sebelumnya, Yuliot melakukan pertemuan bilateral dengan Kementerian Kementerian Baja India atau Ministry of Steel Government of India guna membahas peluang investasi dan penguatan kerja sama kedua negara.
Yuliot mengungkap penjajakan kerja sama tersebut utamanya terfokus pada pengembangan mineral kritis serta fasilitas dalam mendukung produksi baja di Indonesia.
"Kami melaksanakan bilateral meeting bersama Sandeep Poundrik, Secretary Ministry of Steel Government of India di Kantor Kementerian ESDM pada Selasa [24/2/2026]," tulis Yuliot melalui akun Instagram resminya, Rabu (25/2/2026).
Yuliot berharap pertemuan tersebut dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia, serta membuka peluang investasi berkelanjutan.
"Pertemuan ini membahas peluang investasi dan penguatan kerja sama strategis antara Indonesia dan India, khususnya pada pengembagnan critical minerals serta fasilitas dalam mendukung produksi baja di Indonesia," tegas Yuliot.
Sekadar informasi, India baru-baru ini juga menandatangani pakta kerangka kerja mineral kritis dengan Brasil pada Sabtu (21/2/2026).
Kedua negara sepakat bekerja sama erat dalam pengolahan, yang bertujuan untuk mengamankan pasokan mineral langka di tengah gejolak global.
Brasil, yang memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedua di dunia, menawarkan India sumber pasokan alternatif potensial karena negara tersebut berusaha mengurangi ketergantungan pada China dan mengamankan pasokan bahan baku kritis untuk elektronik, energi bersih, dan pertahanan.
Kesepakatan ini tercapai tak lama setelah India bergabung dengan inisiatif Pax Silica yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk membangun rantai pasokan yang tangguh di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, dan mineral kritis.
(azr/ros)






























