"Nutrisi yang baik adalah nutrisi yang seimbang. Di Indonesia, seringkali karbohidratnya terlalu banyak, sementara proteinnya kurang," ujar dr. Dimas, seperti dikutip Detik.com.
Kekurangan protein dan mikronutrisi membuat otak tidak memperoleh bahan penting untuk memperbaiki dan meregenerasi sel. Kondisi ini berpotensi mempercepat penurunan fungsi kognitif.
Minim Aktivitas Fisik Hambat Sirkulasi Otak
Gaya hidup malas gerak atau yang populer disebut mager juga menjadi sorotan. Kurangnya aktivitas fisik berdampak langsung pada kesehatan jaringan saraf.
Menurut dr. Dimas, olahraga bukan sekadar membentuk tubuh, tetapi juga membantu penyerapan nutrisi ke otak melalui peningkatan aliran darah.
Saat tubuh aktif bergerak, suplai oksigen dan nutrisi menuju otak menjadi lebih optimal. Dengan begitu, risiko penyusutan volume otak dapat ditekan.
Kurang Stimulasi Mental dan Sosial
Kelompok usia 40 hingga 50 tahun ke atas dinilai rentan mengalami penurunan aktivitas mental. Anggapan bahwa usia bertambah berarti mengurangi kegiatan justru berisiko bagi kesehatan otak.
Dr. Dimas mengibaratkan otak seperti otot yang harus terus dilatih. Tanpa stimulasi berpikir dan interaksi sosial, volume otak dapat berkurang secara bertahap.
"Tidak beraktivitas menyebabkan manusia tidak biasa berpikir, sehingga lama-kelamaan volume otaknya mulai mengecil," jelasnya.
Ia menganjurkan masyarakat tetap terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pekerjaan, hobi, hingga aktivitas komunitas seperti pengajian, gereja, PKK, maupun Posyandu.
Langkah Sederhana Cegah Penuaan Dini Otak
Menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan tindakan medis kompleks. Perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang efektif dan terjangkau.
Memperbaiki pola makan dengan nutrisi seimbang, rutin berolahraga, serta aktif dalam kegiatan sosial menjadi kunci utama perlindungan otak.
Dengan kesadaran dan komitmen menjalani pola hidup sehat, risiko penuaan dini pada otak dapat diminimalkan secara signifikan.
(seo)
























