Kilang Pertamina Perluas Produksi Bioavtur Ramah Lingkungan

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan energi rendah karbon melalui produksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel atau PertaminaSAF. Setelah sukses di Kilang Cilacap, perusahaan kini bersiap mereplikasi proses produksi berbahan baku minyak jelantah atau Used Cooking Oil di Kilang Dumai dan Kilang Balongan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia. Pengembangan tersebut juga mendukung agenda pemerintah dalam mendorong kemandirian energi nasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun, menegaskan bahwa keberhasilan produksi di Cilacap menjadi fondasi penting untuk ekspansi ke kilang lain. Perusahaan optimistis kapasitas produksi dapat meningkat signifikan dengan tambahan fasilitas baru.
"Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi PertaminaSAF dari kilang-kilang eksisting. Keberhasilan Kilang Cilacap akan kami replikasi di Kilang Dumai dan Kilang Balongan," kata Roberth M.V. Dumatubun.
Replikasi proses produksi tersebut dilakukan dengan memastikan seluruh tahapan memenuhi standar dan regulasi yang berlaku. Pertamina Patra Niaga menekankan bahwa aspek keberlanjutan menjadi prioritas utama dalam pengembangan produk ini.
Raih Sertifikasi Internasional Keberlanjutan
Sebagai bagian dari persiapan, Kilang Dumai dan Kilang Balongan telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan internasional. Kedua kilang resmi memperoleh International Sustainability and Carbon Certification Europe Union dan Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation sebagai Processing Refinery.
"Kilang Dumai dan Kilang Balongan resmi meraih sertifikasi keberlanjutan internasional yaitu International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) Europe Union (EU) dan Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) sebagai Processing Refinery. Ini merupakan pencapaian penting dalam pengembangan energi rendah karbon dan kemandirian energi," kata Roberth.
Sertifikasi tersebut menjadi tonggak strategis dalam pengembangan bioavtur PertaminaSAF berbahan baku UCO. Dengan pengakuan internasional ini, produk yang dihasilkan nantinya dapat diterima di pasar global.
Menurut Roberth, tanpa sertifikasi tersebut, bioavtur yang diproduksi tidak dapat dikategorikan sebagai SAF. Produk juga tidak akan diakui dalam skema keberlanjutan global sehingga tidak dapat diterima maskapai maupun konsumen internasional.
"Dengan penambahan kilang yang mampu memproduksi biovatur PertaminaSAF, tentu akan semakin meningkatkan opitimisme kita dalam memastikan peta jalan penggunaan SAF di Indonesia," kata Roberth.
Perusahaan memastikan bahwa seluruh rantai pasok PertaminaSAF kini telah memperoleh sertifikasi ISCC. Mulai dari Kilang Dumai, Kilang Cilacap, hingga Kilang Balongan sebagai Processing Plant, serta unit aviasi sebagai trader dan distributor SAF.
"Dengan raihan ini, saat ini seluruh rantai pasok PertaminaSAF di PPN sudah mendapatkan sertifikasi internasional keberlanjutan ISCC mulai dari Kilang yaitu Kilang Dumai, Kilang Cilacap dan Kilang Balongan sebagai Processing Plant dan Aviasi sebagai trader dan distributor SAF," jelas Roberth.
Sejumlah persiapan teknis juga telah dilakukan untuk mendukung produksi di dua kilang tersebut. Di antaranya peningkatan kesiapan infrastruktur, kerja sama dengan pemasok minyak jelantah, serta penyediaan peralatan analisis produk.
Selain itu, pengembangan dan penggunaan katalis khusus turut menjadi bagian penting dalam proses produksi SAF. Seluruh tahapan juga disesuaikan dengan persyaratan sertifikasi ISCC EU dan CORSIA yang berlaku secara internasional.
Roberth menambahkan bahwa detail sertifikasi yang telah diraih dapat diakses secara terbuka oleh publik. Hal ini menunjukkan komitmen transparansi perusahaan dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.
"Detail sertifikasi ISCC yang telah di raih dapat dilihat pada website ISCC," ujar Roberth.
Dengan berbagai persiapan yang kini memasuki tahap akhir, Kilang Dumai dan Kilang Balongan ditargetkan siap melakukan uji coba pengolahan UCO menjadi certified SAF pada 2026. Uji coba ini akan menjadi langkah awal menuju produksi komersial.
Pengembangan kapasitas produksi di kilang eksisting menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio rendah karbon Pertamina Patra Niaga. Perusahaan berupaya mengoptimalkan aset yang ada sambil tetap membuka peluang bisnis baru yang berkelanjutan.
Inisiatif ini juga selaras dengan rencana pemerintah dalam mendorong penggunaan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan secara mandatori di masa depan. Dengan dukungan infrastruktur dan sertifikasi internasional, Indonesia berpotensi menjadi pemain penting dalam pasar SAF regional.
Ke depan, Pertamina Patra Niaga menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap seiring pertumbuhan permintaan industri penerbangan. Optimisme tersebut diperkuat dengan kesiapan teknologi dan dukungan regulasi yang semakin jelas.
Melalui langkah ini, Pertamina Patra Niaga tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga berkontribusi pada upaya global menekan emisi karbon di sektor aviasi. Produksi SAF berbasis minyak jelantah menjadi bukti nyata transformasi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.































