Ketiga dan terakhir, akselerasi belanja pemerintah yang signifikan di awal tahun yang memberikan dorongan tambahan bagi aktivitas ekonomi domestik.
"Jadi tiga poin ini yang mestinya, kemungkinan besar, pertumbuhan di kuartal I ini paling tidak kalau nggak flat dengan kuartal keempat [2025], mungkin akan sedikit lebih tinggi," jelasnya.
Di sisi lain, Andry mengingatkan bahwa proyeksi ekonomi global 2026 cenderung stagnan atau bahkan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, alhasil, jika pertumbuhan global melambat maka perdagangan dunia dan harga komoditas juga berpotensi menghadapi tekanan. "Tapi Indonesia kelihatan, proyeksi-nya di kisaran Januari 2026 forecast di 5,2%," tuturnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia sendiri pada kuartal pertama 2026 tetap berada pada level tinggi, ditopang oleh meningkatnya konsumsi masyarakat serta kombinasi stimulus moneter dan fiskal. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pada awal tahun ini terdapat sejumlah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang mendorong konsumsi rumah tangga.
"Karena di triwulan I ini, seperti kami sampaikan tadi, ada Tahun Baru China, Imlek, ada juga kemudian Idul Fitri, demikian juga ada Waisak. Dan ini akan mendorong peningkatan konsumsi," kata Perry dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis pekan sebelumnya.
Selain faktor musiman tersebut, pertumbuhan ekonomi ungkap Perry juga ditopang oleh stimulus moneter yang terus ditempuh bank sentral, baik melalui kebijakan suku bunga maupun ekspansi likuiditas. Sementara itu dari sisi fiskal, pemerintah juga memberikan dorongan melalui belanja negara dan berbagai insentif.
Perry menambahkan, realisasi sejumlah program pemerintah turut menjadi penopang pertumbuhan, baik program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), maupun program hilirisasi dan penguatan sektor riil melalui inisiatif Danantara yang mendorong investasi. "Jadi dukungan pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi pada triwulan pertama ini," pungkas Perry.
(prc/red)





























