Kabar ini menjadi sinyal positif bagi Uni Eropa, Inggris, dan negara lainnya yang sebelumnya terancam beban tarif berat di bawah skema tarif menyeluruh 15%.
“Poin utamanya adalah menciptakan kembali kebijakan yang telah kita kembangkan selama setahun terakhir, memberikan kontinuitas, dan berada dalam posisi di mana kita dapat menghormati kesepakatan yang ada, namun tetap memiliki instrumen penegakan hukum yang tersedia,” tegas Greer.
Greer memperkirakan butuh waktu sekitar "beberapa bulan" bagi pemerintah untuk memulihkan rezim tarif Trump tanpa melanggar perjanjian yang ada pasca kekalahan di pengadilan. Saat ini, Trump menggunakan Pasal 122 dari UU Perdagangan 1974, yang mengizinkannya menerapkan bea masuk tersebut selama 150 hari tanpa persetujuan Kongres. Selama masa itu, pejabat berencana melakukan investigasi perdagangan guna menetapkan tarif permanen pada produk dan industri dari negara spesifik.
Terkait China, Greer menyebut AS berusaha mempertahankan tarif barang di kisaran 35% hingga 50%. Trump sendiri dijadwalkan bertemu dengan Xi Jinping di China pada akhir Maret atau awal April mendatang untuk membahas perpanjangan gencatan senjata tarif kedua negara.
“Kami berharap level tersebut tetap di tempatnya. Kami tidak berniat untuk melakukan eskalasi lebih jauh dari itu. Kami berniat untuk benar-benar berpegang pada kesepakatan yang kami miliki sebelumnya,” kata Greer kepada Fox Business.
Mengenai perjanjian USMCA (AS-Meksiko-Kanada), Greer mengungkapkan bahwa pembicaraan masih terus berlangsung. Ia kembali menegaskan rasa frustrasi Trump terhadap kesepakatan tersebut, terutama terkait perlakuan Meksiko terhadap perusahaan energi AS serta regulasi produk susu dan boikot minuman keras di Kanada.
Namun, ia memberi sinyal bahwa diskusi yang berjalan lebih mengarah pada penyusunan dua kesepakatan tambahan (side-deals) dengan masing-masing negara, bukan penulisan ulang perjanjian secara menyeluruh.
“Saya melakukan negosiasi terpisah dengan Kanada dan Meksiko, karena hubungan kita dengan kedua negara tersebut sangat berbeda. Jadi saya pikir dalam satu tahun ke depan akan ada pembicaraan,” ujarnya. “Mungkin kita akan memiliki protokol terpisah dengan Kanada dan Meksiko yang ditambahkan ke USMCA, karena kita hanya perlu memperbaiki beberapa celah di dalamnya.”
Greer juga mengakui laporan Bloomberg News yang menyebut Trump secara pribadi sempat mempertimbangkan untuk keluar sepenuhnya dari perjanjian tersebut, namun ia meremehkan arti penting pernyataan itu.
“Ini bukan rahasia,” kata Greer. “Presiden sudah sangat jelas tahun ini bahwa ia memiliki kekhawatiran terhadap kinerja USMCA. Ia merasa kita tidak seharusnya begitu saja menyetujui perjanjian ini tanpa evaluasi.”
(bbn)



























