Berdasarkan data Bloomberg, kenaikan IHSG juga merupakan efek langsung dari kenaikan sejumlah saham potensial terutama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Saham BBRI berhasil menguat 100 poin (2,58%) ke Rp3.970/saham usai sebanyak 263 juta saham ditransaksikan. Adapun nilai transaksi saham BBRI hari ini mencapai Rp1,03 triliun.
Sementara BBCA berhasil menguat 100 poin (1,38%) ke Rp7.325/saham usai sebanyak 133 juta saham ditransaksikan.
10 saham teratas yang menopang IHSG, berdasarkan data Bloomberg:
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 15,77 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 9,5 poin
- Indah Kiat Pulp and Paper Corp (INKP) menyumbang 8,5 poin
- Bukit Uluwatu Villa (BUVA) menyumbang 4,5 poin
- Astra International (ASII) menyumbang 4,11 poin
- Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) menyumbang 3,81 poin
- Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) menyumbang 3,08 poin
- MD Entertainment (FILM) menyumbang 2,4 poin
- XLSmart (EXCL) menyumbang 2,31 poin
- Kalbe Farma (KLBF) menyumbang 2,23 poin
Investor sejatinya masih mencermati defisit fiskal anggaran Indonesia yang jarang terjadi, mencapai sebesar Rp54,6 triliun, atau menyentuh 0,21% terhadap PDB per Januari 2026. Seiringan dengan lonjakan belanja negara sebesar 25,7% secara tahunan (year–on–year/yoy) menjadi Rp227,3 triliun.
Strategi percepatan belanja (front–loading) yang agresif ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,5–6%, didukung oleh alokasi besar untuk Program Makan Bergizi (MBG) serta pembangunan infrastruktur.
Sementara itu, total penerimaan negara hanya meningkat 9,5% menjadi Rp172,7 triliun.
Biarpun demikian, menyitir riset RHB Sekuritas Indonesia, pasar tetap menunjukkan ketahanan, dengan pemerintah berhasil mengamankan pembiayaan sebesar Rp105,1 triliun guna menjaga likuiditas serta mendukung prioritas strategis nasional melalui kebijakan fiskal yang ekspansif namun tetap terukur.
“Dari sudut pandang makroekonomi, realisasi pada Januari tergolong cukup konstruktif. Akselerasi penerimaan pajak mengindikasikan perbaikan momentum penerimaan, yang berpotensi menjadi penopang kinerja fiskal dalam beberapa bulan ke depan,” papar RHB dalam riset terbarunya.
Terlebih lagi, defisit tersebut tetap terjaga dan berada dalam kisaran target, sehingga mencerminkan pengelolaan fiskal yang disiplin kendatipun terdapat peningkatan belanja pada Januari 2026.
Optimisme pasar juga terus bertumbuh usai jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 berhasil mencapai Rp10.117,8 triliun, atau tumbuh 10% yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan M1 sebesar 14,9% yoy serta peningkatan penyaluran kredit perbankan sebesar 10,2% yoy.
Lonjakan likuiditas tersebut semakin diperkuat oleh peningkatan klaim bersih kepada pemerintah pusat yang tumbuh 22,6% yoy, sementara uang primer yang disesuaikan (M0) meningkat menjadi Rp2.193 triliun.
“Seiring perkembangan moneter tersebut, ekonomi digital Indonesia juga mencatat capaian penting, di mana jumlah pengguna QRIS telah menembus 60 juta lebih cepat, sekaligus memenuhi target 2026 yang ditetapkan oleh Bank Indonesia,” terang RHB, yang menilai Indonesia berhasil menjembatani likuiditas moneter konvensional dengan infrastruktur pembayaran digital yang berkembang pesat.
(fad/aji)































