Kospi (Korea Selatan) menjadi yang terbaik dengan lonjakan 44,85% ytd. Disusul oleh TW Weighted Index (Taiwan) dengan lesatan 21,77% ytd.
IHSG juga kalah telak dibanding dengan keuntungan investasi di pasar modal benua lainnya, Eropa dan Amerika misalnya, di mana Borsa Istanbul 100 Index (Turki) mencetak keuntungan mencapai 24,77% sepanjang 2026.
Melihat tolok ukur pasar saham global pun IHSG terseok di posisi terbawah. Dow Jones Industrial Average berhasil menguat 2,31%, menyusul S&P 500 Index yang masih mampu menghijau 0,65% ytd.
Dengan demikian, IHSG adalah bursa saham utama dengan performa terlemah tahun ini.
| No | Indeks Bursa Saham Utama | Return Year–to–Date |
| 1 | KOSPI Korea Selatan | 44,85% |
| 2 | Borsa Istanbul 100 Index Turki | 24,77% |
| 3 | TW Weighted Index Taiwan | 21,77% |
| 4 | Stock Exchange of Thailand SETI | 19,98% |
| 5 | Ibovespa Index Brasil | 18,85% |
| 6 | NIKKEI 225 Tokyo Jepang | 16,81% |
| 7 | MSCI COLCAP Index Kolombia | 15,85% |
| 8 | OSE OBX Index Norwegia | 11,22% |
| 9 | Dubai Financial Market Uni Emirat Arab | 10,61% |
| 10 | S&P/BMV IPC Meksiko | 10,31% |
| 11 | Shenzhen Comp. China | 8,61% |
| 12 | FTSE/JSE Index Afrika Selatan | 8,05% |
| 13 | Straits Times Index STI Singapura | 7,89% |
| 14 | FTSE 100 Index Britania Raya | 7,54% |
| 15 | ATX Prime Index Austria | 7,33% |
| 16 | S&P/TSX Comp. Index Kanada | 7,12% |
| 17 | IBEX 35 Index Spanyol | 5,09% |
| 18 | Qatar Exchange Index | 4,91% |
| 19 | CAC Index Euronext Prancis | 4,54% |
| 20 | Hang Seng Hong Kong | 4,39% |
| 21 | FTSE Bursa KLCI Index Malaysia | 4,37% |
| 22 | Tadawul Index Arab Saudi | 3,96% |
| 23 | Dow Jones Industrial Average AS | 2,31% |
| 24 | DAX Stock Index Jerman | 2,02% |
| 25 | S&P 500 Index AS | 0,65% |
| 26 | S&P/NZX 50 Index Selandia Baru | (0,17%) |
| 27 | NASDAQ | (1,63%) |
| 28 | SENSEX India | (2,89%) |
| 29 | Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG | (3,66%) |
Sumber: Riset Bloomberg Technoz, data diolah Rabu (25/2/2026)
Penyebab IHSG Lesu pada 2026
Membuka tahun, IHSG langsung tersengat sentimen kurang positif dari fundamental dalam negeri. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit APBN sampai dengan Desember 2025 tercatat Rp695,1 triliun atau menyentuh 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Jauh lebih tinggi dibanding realisasi defisit APBN pada 2024 yang sebesar Rp509,1 triliun atau terbilang 2,3% terhadap PDB. Di luar pandemi Covid-19, ini merupakan defisit APBN terdalam sejak 2005.
Defisit fiskal yang mendekati batas atas 3% terhadap PDB, membuat investor gelisah dan cemas terhadap ruang pembiayaan pemerintah di tengah volatilitas global.
Defisit juga mencerminkan kondisi Indonesia yang amat bergantung pada pembiayaan eksternal dalam bentuk surat utang. Dengan kebutuhan penerbitan surat utang yang lebih besar, ruang likuiditas berpotensi menyempit sehingga meningkatkan premi risiko bagi pasar keuangan Indonesia keseluruhan.
Isu Independensi BI
Memang, isu tersebut langsung dibantah oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung yang menegaskan independensi Bank Indonesia (BI) tak akan terganggu kendati Thomas Djiwandono menduduki posisi Deputi Gubernur BI.
Sebelumnya, informasi terkait kehadiran jajaran Kementerian Keuangan di RDG BI terkonfirmasi dari sumber Bloomberg Technoz, yaitu pejabat yang terkait dengan urusan fiskal tersebut.
RDG BI edisi November sudah berlangsung pada Selasa 18 November 2025 hingga Rabu mengumumkan kebijakan suku bunga acuan alias BI Rate. Menurut sumber Bloomberg Technoz, Rapat Dewan Gubernur BI yang akan menentukan kebijakan BI rate juga dihadiri oleh Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono.
Ancaman MSCI Menurunkan Status IHSG ke Frontier Market
Morgan Stanley Capital International atau MSCI, penyedia indeks global yang sangat berpengaruh bagi aliran dana asing di pasar modal, memberlakukan pembekuan kebijakan indeks untuk saham–saham Indonesia. MSCI menyimpulkan transparansi kepemilikan saham di Indonesia belum memadai untuk penilaian free float yang tepat dan akurat.
Data kepemilikan dari KSEI dianggap belum cukup dapat diandalkan dan peningkatan data dari BEI belum mengatasi masalah fundamental terkait investability dan pembentukan harga yang wajar.
Adapun MSCI memberikan tenggat hingga Mei 2026 untuk peningkatan transparansi. Jika tidak tercapai, maka Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot di MSCI Emerging Markets atau bahkan diturunkan statusnya menjadi Frontier Market.
Dengan potensi penurunan klasifikasi tersebut, melansir Iman Rachman yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur Utama BEI, Indonesia akan berada sejajar dengan negara–negara Frontier Market seperti Vietnam dan Filipina, apabila transparansi data yang mereka harapkan tidak terpenuhi sampai dengan Mei.
(fad)





























