Logo Bloomberg Technoz

Utusan khusus presiden, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, dijadwalkan terbang ke Jenewa pekan ini untuk putaran baru pembicaraan AS-Iran pada hari Kamis. Kedua utusan tersebut akan kembali bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang berulang kali menekankan adanya peluang solusi diplomatik meski di bawah ancaman Trump.

"Saya percaya masih ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik berdasarkan prinsip saling menguntungkan, dan solusi itu berada dalam jangkauan kita," ujar Araghchi pada hari Minggu dalam program Face the Nation di CBS.

Proses dialog yang sedang berjalan ini diwarnai oleh peningkatan militer AS yang masif, peringatan serangan udara dari Trump, hingga pembatasan visa baru bagi pejabat Iran menyusul tindakan keras Teheran terhadap protes domestik awal tahun ini.

Meski protes tersebut menjadi alasan awal Trump untuk potensi kampanye pengeboman, sang presiden dan pejabat administrasinya memberikan pernyataan yang bertentangan mengenai apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kesepakatan baru tersebut.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio berpendapat bahwa kesepakatan harus mencakup program rudal Iran, penanganan protes, serta penghentian dukungan bagi kelompok seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon. Di sisi lain, Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan nuklir yang lebih sempit mungkin sudah cukup.

Walaupun Trump memberikan tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran, ia bisa saja mengabaikan batas waktu buatannya sendiri, sebagaimana yang ia lakukan saat memerintahkan serangan pada Juni 2025. Saat itu, ia mengeklaim bahwa "fasilitas pengayaan nuklir utama telah hancur total."

Trump diperkirakan akan menyampaikan pesan terbaru mengenai Iran dalam pidato State of the Union pada hari Selasa. Dalam wawancara dengan Al-Arabiya, Witkoff menyebut Trump "penasaran" mengapa pejabat Iran belum juga "menyerah" terhadap tekanan AS yang meningkat.

Para pakar Iran memperingatkan bahwa serangan bom di tengah negosiasi dapat menggagalkan kesepakatan dan memicu siklus balas dendam mematikan, termasuk serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Kekhawatiran akan serangan balasan dari Iran atau Hizbullah inilah yang diduga kuat menjadi pemicu perintah evakuasi sebagian di Kedutaan Beirut.

(bbn)

No more pages