Di kawasan Asia, pergerakan pasar cenderung beragam. Bursa Jepang, Korea Selatan, dan Australia mencatatkan penguatan yang ditopang reli saham teknologi, sementara sebagian besar pasar Asia lainnya tutup karena libur Tahun Baru Imlek. Meski demikian, sentimen geopolitik AS-Iran tetap membayangi pergerakan aset global dan mendorong investor mengalihkan sebagian dana ke aset lindung nilai.
Dari dalam negeri, PHINTRACO Sekuritas dalam laporan Domestic Market Review 20 Februari 2026 mencatat IHSG ditutup di level 8.274,08 setelah sempat menguat hingga 8.376. Secara sektoral, sektor teknologi mencatatkan koreksi terdalam, sementara sektor basic materials menjadi penopang utama penguatan indeks.
Dari sisi teknikal, Phintraco menilai terdapat pelebaran histogram positif pada indikator MACD dan Stochastic RSI yang mulai mengarah ke area overbought, namun di saat yang sama volume jual mengalami peningkatan.
“Kondisi tersebut mengindikasikan ruang penguatan yang terbatas dan memperkuat proyeksi pergerakan sideways di rentang 8.200-8.350,” tulis tim riset Phintraco, Jumat (20/2/2026).
Sentimen moneter domestik relatif stabil setelah Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19 Februari 2026. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran.
Data menunjukkan pertumbuhan kredit pada Januari 2026 mencapai 9,96% secara tahunan, meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 9,69%, sekaligus menjadi laju tercepat sejak Februari 2025.
Pelaku pasar juga mencermati rilis data transaksi berjalan kuartal IV 2025 yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus, meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari kesepakatan dagang Indonesia-Amerika Serikat, yang mencakup penurunan tarif impor sejumlah produk Indonesia serta penandatanganan nota kesepahaman sektor swasta senilai US$38,4 miliar di berbagai sektor strategis.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, analis menilai IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi. Tanpa dorongan baru dari arus dana asing atau katalis global yang lebih kondusif, pergerakan indeks diperkirakan belum keluar dari rentang teknikalnya dalam jangka pendek.
(dhf)



























