Logo Bloomberg Technoz

IHSG Diprediksi Sideways, Net Sell Masih Membayangi

Recha Tiara Dermawan
20 February 2026 08:15

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (20/2/2026), di tengah tekanan sentimen global serta masih berlanjutnya aksi jual bersih investor asing. Sejumlah analis menilai, belum adanya katalis kuat dari eksternal maupun domestik membuat pergerakan IHSG cenderung konsolidatif.

Berdasarkan laporan BNI Sekuritas Retail Report edisi 20 Februari 2026, IHSG pada perdagangan Kamis (19/2) ditutup melemah 0,43% dan disertai aksi jual bersih asing sekitar Rp245 miliar.

Saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain BBCA, BMRI, INKP, MEDC, dan ADMR. Secara teknikal, BNI Sekuritas menilai IHSG berpotensi bergerak sideways dengan area support di kisaran 8.200-8.230 dan resistance di rentang 8.300-8.350.


Tekanan pasar domestik sejalan dengan pelemahan bursa global. Di Wall Street, indeks-indeks utama ditutup melemah akibat kekhawatiran terhadap sektor kredit swasta serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Dow Jones Industrial Average turun 0,54%, S&P 500 melemah 0,28%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,31%.

Sentimen negatif tersebut diperkuat oleh penurunan tajam saham-saham pengelola aset alternatif serta kekhawatiran eskalasi konflik Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan harga energi.