“Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,"tambahnya.
Selain itu, praktik spiritual selama puasa seperti doa, refleksi diri, dan ibadah rutin juga berperan sebagai spiritual coping. Cara ini dinilai mampu memperkuat makna hidup, meningkatkan harapan, serta membantu seseorang menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang.
Contoh aktivitas: Membaca kitab suci, doa atau renungan. Menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap malam.
“Dalam hening puasa, jiwa belajar menemukan arti di tengah keterbatasan,"katanya.
Dari sisi kesehatan mental, puasa yang dijalani dengan benar juga dapat membantu menurunkan persepsi stres. Tubuh dan pikiran belajar beradaptasi terhadap ritme baru, sehingga meningkatkan resiliensi serta kemampuan menghadapi tekanan tanpa mudah merasa kewalahan.
Contoh aktivitas: Jalan santai, olah raga ringan menjelang berbuka.Mengurangi paparan berita atau media sosial yang memicu stres.
“Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat,"katanya.
Lahargo juga menyinggung potensi perubahan positif pada fungsi otak, termasuk fleksibilitas berpikir dan kontrol impuls. “Yang dilatih dalam puasa bukan sekadar perut, tapi kemampuan berkata ‘cukup’,” ujarnya.
Kemudian,sebagian orang melaporkan kejernihan mental selama puasa. Hal ini, kata dia bisa terjadi karena berkurangnya overstimulasi dan meningkatnya kesadaran diri.
Kata dia, dari perspektif psikologi, fokus seseorang menjadi lebih terarah,pikiran terasa lebih ringan,prioritas hidup lebih jelas.
Contoh aktivitas: Menyusun tiga prioritas utama setiap pagi.Mengurangi multitasking yang berlebihan.
“Ketika distraksi berkurang, pikiran menemukan arah," katanya.
Selain itu, puasa sering diiringi kegiatan berbagi dan kebersamaan. Dukungan sosial adalah faktor protektif penting dalam kesehatan mental.
Melalui relasi yang hangat, seseorang dapat merasakan:empati yang lebih dalam,
koneksi emosional yang kuat,serta rasa memiliki dalam komunitas.
Contoh aktivitas:Berbuka bersama keluarga atau teman dan kerabat. Terlibat dalam kegiatan sosial atau pelayanan.
“Puasa tidak hanya mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga pada sesama,"katanya.
Ia menyimpulkan bahwa puasa bukan hanya ritual fisik, tetapi juga perjalanan psikologis dan spiritual. “Puasa adalah ibadah yang memberi jeda bagi raga dan pikiran, sehingga jiwa bisa kembali seimbang,” kata Lahargo.
(dec)































