Wahyu menyatakan prediksi tersebut bisa terwujud jika permintaan timah untuk sektor semikonduktor dan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) tetap kuat.
“Karena timah adalah ‘lem’ bagi semua perangkat elektronik [AI, gadget, EV], dunia tidak punya pilihan banyak selain tetap membeli dari Indonesia, yang memberikan posisi tawar politik dan ekonomi yang kuat bagi pemerintah,” ungkap dia.
Bukan Bijih
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor timah Indonesia masuk dalam kode HS 80011000 unwrought tin, not alloyed atau timah murni. Sementara itu, bijih timah yang masuk dalam kode HS 26090000 tin ores & concentrates, tercatat tidak diekspor oleh Indonesia.
Ekspor bijih timah sempat tercatat dilakukan pada 2023, 2022, dan 2021; tetapi masing-masing hanya sebesar 91 kilogram (kg), 55 kg, dan 40 kg.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Cecep Mochammad Yasin mengamini Indonesia memang sudah tidak mengekspor bijih timah.
Akan tetapi, dia mengaku belum mendapatkan arahan lebih lanjut ihwal wacana penyetopan ekspor timah murni batangan atau ingot.
“Betul [bijih timah tidak diekspor oleh Indonesia],” kata Cecep kepada Bloomberg Technoz, Kamis (19/2/2026).
BPS melaporkan sepanjang Januari hingga Desember 2025 ekspor timah murni batangan atau ingot tercatat sebanyak 52.416 ton.
Singapura merupakan negara utama ekspor timah Indonesia dengan besaran 12.298 ton. Posisi kedua ditempati China, dengan total ekspor ke negara itu sebesar 9.886 ton.
Posisi ketiga, ditempati oleh Korea Selatan dengan total ekspor sebanyak 8.716 ton. Kemudian, India dengan total ekspor sebanyak 5.035 ton. Sementara di posisi kelima, ditempati jepang dengan total ekspor 4.389 ton.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan saat ini pihaknya tengah mengkaji kemungkinan untuk menghentikan ekspor timah.
Rencana itu sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi mineral logam di dalam negeri.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit, dan tahun ke depan kita akan mengkaji beberapa komoditas lain termasuk timah, ga boleh lagi ekspor barang mentah,” kata Bahlil dalam panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jumat (13/2/2026).
Bahlil meminta pelaku usaha untuk investasi lebih intens pada sisi industri hilir timah nantinya. Dia berharap nilai tambah dari hilirisasi timah itu dapat berlipat ganda.
“Silahkan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” kata Bahlil.
Manuver penghentian ekspor timah itu ikut didorong potensi hilirisasi logam tanah jarang atau rare earth elements (RRE) yang belakangan menjadi perhatian pemerintah.
Adapun, LTJ terkandung dalam salah satu mineral ikutan timah, yakni monasit yang terdiri dari unsur dominan seperti cerium, lanthanum, neodymium, yttrium, dan praseodimium.
LTJ juga mengandung thorium yang dapat diolah menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Menurut Bahlil, keputusan pelarangan ekspor tersebut dilakukan karena logam tanah jarang merupakan komoditas strategis yang harus dikuasai oleh negara.
Adapun, harga timah pada 2026 diproyeksi menjadi US$45.000/ton, menurut BMI. Kondisi itu salah satunya didukung oleh permintaan semikonduktor di Taiwan yang meningkat untuk cip industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
BMI sendiri merevisi proyeksi harga timah pada 2026 yang semula dari US$35.000/ton menjadi US$45.000/ton karena harga telah jauh melampaui fundamental dengan aktivitas spekulatif yang menjadi pusat perhatian.
BMI memperkirakan harga timah akan tetap tinggi dalam dekade mendatang, namun akan sedikit menurun dari level tertinggi saat ini. Setelah 2026 berakhir, harga timah akan sedikit turun, mencapai US$39.000/ton pada 2030.
Namun, angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata harga timah pada 2016—2020 sebesar US$18.729/ton.
Harga berjangka timah selama tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat berada di sekitar US$54.878/ton pada 28 Januari 2026. Per hari ini, timah dilego di level US$45.918/ton di LME, turun 0,03% dari penutupan Rabu.
(azr/wdh)






























