Konsekuensinya, risiko arus keluar portofolio dari pasar domestik meningkat dan memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah. Kondisi ini sudah tercermin dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin. Total penawaran yang masuk mencapai Rp63,06 triliun, turun 17,66% dibandingkan lelang sebelumnya sebesar Rp76,59 triliun.
Sentimen bagi rupiah juga bisa datang dari mitra dagang utama Jepang yang tengah menghadapi keputusan penting terkait siapa yang akan mengisi posisi dewan di bank sentral Jepang (Bank of Japan).
Melansir Bloomberg News, Perdana Menteri Sanae Takaichi kemungkinan akan mengusulkan pengganti Asahi Noguchi dan Junko Nakagawa dalam sidang parlemen paling cepat 25 Februari. Noguchi akan menyelesaikan masa jabatan lima tahunnya pada akhir bulan depan, sementara masa jabatan Nakagawa berakhir pada 29 Juni.
Sekitar 63% pengamat BOJ dalam survei Bloomberg bulan lalu memperkirakan bahwa pengganti Noguchi akan memiliki kecenderungan reflasionis yang kuat. Pertanyaannya adalah sejauh mana sikap dovish (longgar) dari dua kandidat tersebut, mengingat kecil kemungkinan Takaichi memilih figur hawkish (ketat).
Jika kedua pilihan condong kuat ke pelonggaran moneter, kebijakan itu bisa memicu pelemahan tajam yen dan lonjakan imbal hasil obligasi. Jika pasar membaca komposisi baru dewan sebagai sinyal bahwa normalisasi suku bunga Jepang akan diperlambat, yen berisiko melemah kembali.
Pelemahan yen biasanya mendorong penguatan indeks dolar secara luas dan pada akhirnya berimbas pada mata uang emerging markets lainnya, termasuk rupiah. Dalam perdagangan hari ini yen masih berada di zona hijau dengan penguatan tipis 0,02%, namun dalam sebulan terakhir yen telah susut sebanyak 0,13%.
Sementara dari dalam negeri belum ada katalis yang bisa menopang penguatan rupiah lebih lanjut. Meski data-data yang dipaparkan pemerintah terlihat positif, beberapa ekonom menilai transformasi struktural belum akan diimplementasikan dalam waktu dekat, sehingga pertumbuhan ekonomi domestik masih belum berkualitas.
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan di sekitar 4,9% hingga 5,3% (yoy) pada tahun fiskal 2026," kata LPEM FEB Universitas Indonesia dalam catatannya awal Februari lalu.
Dalam konteks fiskal, Indonesia masih menghadapi tantangan dengan masih berlanjutnya program prioritas yang dinilai mahal dan memberikan beban fiskal besar serta menyedot sumber daya dari belanja lain yang lebih produktif.
Hal ini masih menjadi beban bagi penguatan rupiah secara fundamental, terlebih sentimen eksternal masih terus berkelindan dalam waktu dekat.
(dsp/aji)
































