Penurunan yield yang lebih dalam di tenor pendek mencerminkan keyakinan pasar bahwa suku bunga acuan domestik relatif stabil dalam waktu dekat. Investor agaknya mulai melakukan akumulasi, memanfaatkan level yield yang sebelumnya sempat naik akibat tekanan global.
Selisih imbal hasil (yield spread) antara SUN tenor 10Y dan US Treasury (UST) yang masih berada di kisaran 200 bps lebih juga memberi bantalan tambahan bagi pasar obligasi domestik. Selisih imbal hasil yang tetap atraktif terjaga ini membuat investor agaknya tetap mempertimbangkan eksposur di pasar obligasi Indonesia, meskipun volatilitas global sedang meningkat.
Pasar surat utang masih menjadi indikator kepercayaan jangka menengah terhadap stabilitas ekonomi. Ketika investor tetap memburu SUN, artinya mereka belum melihat risiko fundamental yang signifikan.
Agaknya dalam konteks ini, pasar obligasi cenderung lebih rasional dibanding pasar valas yang cenderung reaktif terhadap sentimen global jangka pendek. Apalagi, pelaku pasar dapat meminta yield lebih tinggi mengingat risiko yang ada di pasar domestik saat ini.
Sebagai catatan, hari ini pemerintah kembali melakukan lelang SUN dengan target indikasi senilai Rp33 triliun. Jika respons pasar positif yang akan terlihat dari incoming bids lebih tinggi dari lelang sebelumnya dan bid-to-cover ratio yang solid, dapat menjadi sinyal bahwa likuiditas domestik masih berlimpah dan selera risiko investor global relatif terjaga.
Namun jika incoming bids yang masuk lebih rendah atau pemerintah harus membayar yield lebih tinggi untuk memenangkan lelang, maka pasar perlu mencermati adanya kehati-hatian investor.
Kenaikan cost of fund pemerintah dalam lelang hari ini bisa menjadi sinyal bahwa premi risiko mulai meningkat, terutama jika dikombinasikan dengan penguatan dolar AS yang terjadi belakangan ini.
(dsp/aji)






























