Sektor pariwisata internasional, yang dihitung sebagai ekspor jasa, sempat menjadi penyangga ekonomi sepanjang 2025, namun baru-baru ini mulai terpukul. Jumlah wisatawan asal China merosot tajam setelah Beijing mengeluarkan peringatan perjalanan ke Jepang. Langkah ini merupakan reaksi atas komentar kontroversial PM Takaichi mengenai Taiwan pada November lalu. Akibatnya, ekspor neto tidak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kuartal ini, meskipun volume ekspor barang terus naik setiap bulannya.
"Dampak negatif dari tarif Trump mulai mereda, sehingga memicu pertumbuhan ekonomi positif sesuai ekspektasi, meski pemulihannya jauh lebih lemah dari yang saya perkirakan," tambah Kobayashi.
Data yang dirilis Senin ini menggarisbawahi pemulihan ekonomi yang tidak merata dan kurangnya penggerak kuat selain faktor temporer. Meski demikian, aktivitas ekonomi yang lesu ini diperkirakan tidak akan menghalangi BOJ untuk menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun ini.
Di sisi fiskal, laporan ini dapat menjadi momentum bagi PM Takaichi untuk mendorong pertumbuhan melalui belanja pemerintah dan investasi terarah. Awal bulan ini, Takaichi memimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) meraih kemenangan pasca-perang terbesar untuk satu partai, yang memberinya mandat penuh untuk menjalankan kebijakan ekspansionisnya.
Kemenangan besar tersebut meredam kekhawatiran akan keterlambatan pengesahan anggaran tahun fiskal mendatang yang dimulai April nanti. Dengan penguasaan dua pertiga kursi di majelis rendah, pengesahan anggaran hampir dipastikan berjalan mulus. Takaichi kini berencana mempercepat diskusi mengenai penangguhan sementara pajak penjualan makanan, dan berjanji akan menutup celah pendapatan tersebut tanpa bergantung pada obligasi pemerintah baru.
Ke depan, ekonomi Jepang diharapkan dapat bertahan pada kuartal pertama 2026 berkat paket stimulus besar yang didorong Takaichi melalui parlemen pada Desember lalu. Faktor kunci lainnya adalah pertumbuhan upah. Serikat pekerja saat ini mengincar kenaikan gaji yang signifikan dalam negosiasi musim semi (Shunto) yang akan mencapai puncaknya pada Maret mendatang.
Namun, momentum kenaikan upah ini tidak merata. Eksportir besar yang meraup untung dari pelemahan yen cenderung lebih murah hati dibandingkan perusahaan kecil yang marginnya tertekan oleh biaya impor. Terlebih lagi, meskipun upah nominal tumbuh stabil, upah riil terus turun setiap bulan sepanjang tahun lalu akibat inflasi yang persisten.
"Meskipun ekspor barang tampak sudah mencapai titik terendah, kekhawatiran utama adalah ekspor jasa pariwisata yang berubah negatif," kata Kobayashi. "Dengan perkiraan penurunan jumlah pengunjung dari China selama periode Tahun Baru Imlek di kuartal pertama, tren pelemahan ini kemungkinan akan memburuk."
(bbn)































