Logo Bloomberg Technoz

Nyaris keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham infrastruktur, saham barang baku, dan saham kesehatan dengan terpeleset mencapai 1,22%, 1,06%, dan 0,96%.

Sama halnya dengan IHSG, bursa saham Asia juga terpeleset di zona merah. Hang Seng (Hong Kong) jadi yang paling parah dengan amblas 1,72%.

Adapun menyusul TOPIX (Jepang), Straits Time (Singapura), PSEI (Filipina), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), NIKKEI 225 (Tokyo), SENSEX (India), Shenzhen Comp (China), SETI (Thailand), KLCI (Malaysia), dan KOSPI (Korea Selatan), yang terpangkas masing-masing 1,63%, 1,57%, 1,34%, 1,26%, 1,25%, 1,21%, 1,1%, 1,05%, 0,68%, 0,65%, dan 0,28%.

IHSG dan bursa saham Asia tersengat pelemahan bursa saham Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, tiga indeks utama di Wall Street kompak ditutup melemah. Nasdaq Composite, S&P 500, dan Dow Jones Industrial Average masing-masing amblas mencapai 2,03%, 1,57%, dan 1,34%.

Fluktuasi tajam di Wall Street mencerminkan tingginya risiko yang menyengat sektor AI serta efek domino yang tidak terduga di berbagai segmen bisnis. Kondisi ini memperlihatkan betapa cepatnya perubahan sentimen AI dapat merembet jauh melampaui sektor teknologi.

“Saham perangkat lunak sekarang diperdagangkan seperti saham bank pada tahun 2008,” jelas Nick Ferres, Chief Investment Officer Vantage Point Asset Management di Singapura.

“Asia berkinerja baik sepanjang tahun ini, tetapi saya khawatir akan korelasi dengan pasar global dan adanya aksi lepas aset (tactical unwind),” tambahnya.

Sentimen pasar tambah suram imbas rilis data inflasi AS bulan Januari. Median perkiraan analis memprediksi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) inti sebesar 2,5% secara tahunan (year–on–year/yoy), seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Di sisi lain, pasar pesimistis bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Maret mendatang. Proyeksi pasar saat ini lebih condong pada kepastian pemangkasan bunga pada pertemuan Juli.

Benjamin Wiltshire dari Citigroup Inc menilai pasar terlalu terlena terhadap prospek inflasi AS. Menurutnya, investor mungkin meremehkan ketahanan konsumen AS, sehingga ekspektasi inflasi kemungkinan akan direvisi sedikit lebih tinggi.

“Pasar seolah memiliki keyakinan bahwa inflasi akan turun,” kata Wiltshire dalam sebuah dengar pendapat, mengutip Bloomberg.

“Padahal, kita masih berada di lingkungan inflasi yang secara struktural lebih tinggi.”

Survei yang dilakukan 22V Research memperlihatkan 33% investor percaya reaksi pasar terhadap data inflasi akan bersifat risk–on. Sedangkan 43% mengatakan campuran/tidak signifikan, dan hanya 24% yang memperkirakan pergerakan risk–off

Selain itu, 62% investor menilai inflasi inti berada pada jalur yang ramah bagi The Fed, sementara 38% berpendapat kondisi keuangan perlu diperketat — persentase tertinggi sejak September.

(fad/aji)

No more pages