Begitu juga dengan saham–saham unggulan LQ45 juga tercatat dalam tren negatif. Adapun saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terpeleset mencapai 2,19%, disusul oleh saham PT Hermina Tbk (HEAL) ambles 2,19%, dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) drop 1,88%.
Rupiah Melemah Terdalam di Asia
Rupiah pada perdagangan siang hari ini ada di zona pelemahan, hingga menyeret IHSG ke zona merah.
Sentimen Moody's rating yang menurunkan prospek kredit Indonesia menjadi negatif minggu lalu membuat premi risiko investasi di pasar dalam negeri terus melambung, jadi sebab.
Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah 0,27% di pasar spot menyentuh Rp16.829/US$. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah padahal sempat dibuka menguat 0,04% pada level Rp16.777/US$.
Kinerja rupiah yang melaju di tren negatif, terjadi ketika dolar AS menguat di level 96,958, usai terapresiasi 0,13% point–to–point.
Jika nilai rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp16.840/US$ dan selanjutnya Rp16.870/US$ secara potensial menahan rupiah.
Penguatan dolar AS menunjukkan investor yang sedang memasang mode bermain aman. Aset–aset berisiko pun ditinggalkan, termasuk saham.
Dari pasar Indonesia, kegelisahan investor masih membebani langkah rupiah. Moody's rating yang menurunkan prospek kredit Indonesia menjadi negatif minggu lalu menyeret premi risiko investasi di pasar terus melambung, menyusul kecemasan sebelumnya terkait kebijakan fiskal dan tata kelola pemerintahan yang cenderung tak mudah ditebak.
Dari pasar surat utang misalnya, sentimen ini masih menggerus kepercayaan investor global. Terlihat dari adanya arus dana asing keluar di pasar saham dan obligasi.
Melansir data Bloomberg, investor global meninggalkan pasar saham sebanyak US$42,2 juta pada 10 Februari lalu, sementara di pasar obligasi dana investor global tercatat keluar sebanyak US$125,6 juta.
Pasar juga masih mencermati posisi fiskal pemerintah dan dinamika pasar obligasi. Realisasi penerimaan negara pada pembukaan tahun serta strategi pembiayaan APBN akan menjadi perhatian utama.
“Namun demikian, kegelisahan pasar domestik terkait posisi fiskal dan kondisi pasar saham tetap membayangi rupiah,” tulis analis Maybank dalam sebuah catatan, mengutip Bloomberg.
Dari pasar Asia, hampir semua mata uang Benua Kuning kompak menguat menyusul sentimen yang diisyaratkan oleh The Fed menyusul data perekonomian AS yang lesu.
“Cerita soal perbedaan suku bunga kembali menjadi fokus, dengan data ekonomi AS yang lemah mendorong investor memperhitungkan peluang lebih besar pemangkasan suku bunga The Fed,” papar David Forrester, analis di Credit Agricole, Singapura, seperti dikutip Bloomberg News.
Di pasar regional Asia tengah hari ini ini, semua mata uang menguat melawan dolar AS kecuali rupiah. Won menguat 0,46%, disusul peso 0,31%, ringgit 0,23%, dolar Taiwan 0,18%, yuan China 0,14%, yuan offshore 0,13%, rupee 0,1%, yen 0,07%, dan juga dolar Hong Kong yang menguat 0,01%.
Cuma baht yang melemah 0,01%, dan dolar Singapura 0,05%, beserta rupiah yang tergerus siang hari ini dengan pelemahan terdalam sebesar 0,27% hingga menyentuh Rp16.829/US$.
(fad)

























