Dony menyampaikan keyakinannya bahwa fundamental perusahaan-perusahaan tersebut saat ini berada dalam kondisi yang baik. Ia juga mengatakan, Danantara memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap kinerja BUMN karena terlibat langsung dalam pengelolaan aset dan kewajiban perusahaan-perusahaan tersebut.
“Bagi kami, saham itu akan mengikuti fundamental, dan kami sangat percaya bahwa fundamental perusahaan-perusahaan BUMN saat ini sangat baik,” kata Dony di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurut dia, kondisi fundamental yang kuat tercermin dari kinerja aset maupun liabilitas BUMN yang dinilai menunjukkan performa positif. Dony menilai hal tersebut terjadi karena Danantara melakukan pengendalian secara intens terhadap perusahaan-perusahaan yang berada dalam pengelolaannya.
Ia mencontohkan kinerja bank BUMN yang dinilainya berada dalam kondisi solid secara fundamental. Dony menyebut kinerja BNI dan Bank Mandiri menunjukkan performa yang baik dari sisi fundamental.
“Dari sisi fundamentalnya saja, keyakinan Danantara sangat bagus, karena baik aset maupun liabilitasnya menghadapi performa yang luar biasa,” ujarnya.
Meski demikian, Dony menegaskan dirinya tidak dalam posisi untuk memengaruhi keputusan investasi publik. Ia hanya menyampaikan kondisi fundamental BUMN berdasarkan pemahaman dan pengelolaan yang dilakukan Danantara.
“Silakan kepada masyarakat, saya tidak bisa mempengaruhi. Tetapi paling tidak saya bisa menyampaikan bahwa BUMN hari ini secara fundamental berada dalam kondisi yang baik,” tutupnya.
Penetrasi hingga ke Desa
Salah satu parameter sederhana mengukur solidnya fundamental adalah, dengan melihat sejauh mana penetrasi bank-bank tersebut.
Riset CGS International menemukan bahwa bank konvensional masih memiliki daya tarik kuat dibandingkan bank digital, terutama di wilayah pedesaan. CGS mencatat faktor payroll atau penerimaan gaji menjadi alasan utama masyarakat membuka dan memiliki rekening bank.
Tim riset mengatakan faktor payroll menjadi pintu masuk penting bagi perbankan dalam meningkatkan pangsa pasar dana pihak ketiga (DPK). Karena fungsi utamanya untuk menerima gaji, biaya administrasi tidak menjadi pertimbangan utama. Sebagian besar responden menyebut potongan biaya dilakukan otomatis sehingga relatif tidak disadari.
Selain faktor payroll, kepercayaan terhadap citra merek bank dan kebiasaan penggunaan sehari-hari yang telah terbentuk turut menjadi pertimbangan utama dalam memilih bank. Hal ini memperkuat posisi bank konvensional yang telah lama beroperasi dan memiliki jaringan luas.
Di sisi lain, bank digital seperti Bank Jago dan SeaBank dikenal luas, khususnya di kalangan Gen Z. Keterkaitan dengan ekosistem digital populer, paparan iklan yang agresif, serta promosi melalui key opinion leaders (KOL) dinilai efektif membangun kesadaran merek. Namun, tingkat awareness tersebut belum sepenuhnya berujung pada penggunaan aktif. Sejumlah responden menilai bank digital belum menawarkan pengalaman yang berbeda secara signifikan dibandingkan layanan mobile banking milik bank konvensional.
Riset tersebut juga mencatat tingginya adopsi pembayaran non-tunai di kota tier 2 dan tier 3. Transfer bank, transaksi menggunakan QRIS, dan penarikan tunai menjadi jenis transaksi yang paling sering dilakukan. QRIS disebut telah dapat digunakan secara luas, termasuk di warung kecil dan toko kelontong, sehingga praktis untuk transaksi harian. Tingginya penetrasi e-wallet dan penggunaan aplikasi mobile untuk pembayaran tagihan turut mendorong perubahan perilaku ini.
Dengan tren transaksi non-tunai yang terus berkembang hingga ke kota-kota kecil, perbankan dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income).
Sementara itu, penggunaan produk pay later juga meningkat seiring pertumbuhan belanja online, dengan faktor promosi menjadi pendorong utama, termasuk di wilayah pedesaan.
CGS International mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perbankan, didukung prospek pemulihan biaya dana mulai kuartal IV-2026 serta outlook kualitas kredit yang relatif stabil.
Saham pilihan utama adalah Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Central Asia (BBCA), yang dinilai diuntungkan dari perbaikan likuiditas dan kinerja operasional yang solid, terutama pada segmen wholesale.
Selain itu, rekomendasi Add juga diberikan kepada Bank Negara Indonesia (BBNI) seiring transformasi bisnis pendanaan dan standar penyaluran kreditnya, serta potensi dividend yield 8% untuk laporan keuangan 2025.
Target harga BMRI ada di Rp5.600/saham, BBCA di Rp10.700/saham dan BBNI di Rp5.300/saham.
(dhf)






























