Ancaman aksi militer AS terhadap Iran telah mengguncang pasar minyak global. Tekanan Washington dinilai kian kredibel setelah pasukan AS menyerbu Caracas pada 3 Januari lalu dan menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.
Sebagai penegasan atas keseriusan tersebut, pada hari Senin, pasukan AS juga menaiki sebuah kapal tanker minyak di Samudra Hindia. Langkah ini menunjukkan keseriusan Washington dalam menjalankan isolasi energi total terhadap Venezuela agar komoditas mereka tidak bisa menembus pasar internasional
Penasihat maritim tersebut memperbarui peringatan sebelumnya yang sempat menyatakan "tidak ada ancaman spesifik." Kini, risiko bagi kapal komersial di area tersebut mencakup potensi dipanggil, diperiksa, ditahan, hingga disita oleh pasukan Iran.
Jika dihentikan, kapal komersial disarankan untuk memberi tahu pasukan Iran bahwa mereka berlayar sesuai dengan hukum internasional. Kapal juga diminta menolak izin bagi pasukan Iran untuk naik ke atas kapal dengan tetap memastikan keselamatan awak, namun tidak disarankan untuk melakukan perlawanan fisik secara paksa.
Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi perdagangan minyak Timur Tengah menuju pasar global. Jalur ini menjadi titik strategis yang sering diancam akan ditutup oleh Iran setiap kali ketegangan geopolitik meningkat.
“Saat bertransisi ke arah timur di Selat Hormuz, kapal direkomendasikan untuk melintas dekat dengan laut teritorial Oman,” tulis pengumuman tersebut. Kapal-kapal diminta untuk “tetap berada sejauh mungkin dari laut teritorial Iran tanpa mengabaikan keselamatan navigasi.”
(bbn)
































