Logo Bloomberg Technoz

Pekan lalu, IHSG mengalami tekanan dahsyat. Bahkan sempat terjadi penghentian perdagangan sementara (trading halt) beberapa kali.

Tekanan utama bagi IHSG datang dari keputusan MSCI yang membekukan pembobotan indeks untuk Indonesia. MSCI merasa ada isu transparansi dan tata kelola yang perlu diperbaiki.

Investor khawatir Indonesia akan mengalami ‘turun kelas’ dari emerging market menjadi frontier market.

Keputusan itu membawa efek bola salju. Goldman Sachs, UBS, dan Nomura ikut menurunkan rekomendasi mereka terhadap pasar saham Indonesia.

Namun sepertinya sentimen tersebut perlahan reda. Apalagi kemarin sudah ada pertemuan antara otoritas pasar modal Tanah Air dengan MSCI.

“Kami melihat respons kebijakan yang terkoordinasi merupakan langkah yang kredibel dan tepat, mengurangi risiko aksi lanjutan dari MSCI. Volatilitas jangka pendek mungkin masih akan terjadi, tetapi pilar dukungan yang diberikan bisa menstabilkan pasar. 

“Kami meyakini upaya reformasi ditambah arus modal dari dalam negeri akan meredakan sentimen ini, koreksi hanya temporer,” papar Strategist Citigroup Inc Ferry Wong dalam catatannya.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto memandang fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Koreksi IHSG terbukti hanya sementara, dan hari ini terbukti sudah bangkit lagi.

“Pasar modal Indonesia memiliki pondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional,” sebut David.

Menurut David, koreksi IHSG kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk melakukan penguatan struktural yang berpotensi memberikan dampak positif dalam jangka panjang.

“Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, maka bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global,” tambahnya.

(aji)

No more pages