Logo Bloomberg Technoz

“Kami percaya terhadap kemampuan dari pemerintah dan juga upaya dari pemerintah untuk memperbaiki situasi yang ada,” ujarnya. 

Donald hingga kini belum bisa membeberkan produk terbaru yang akan diluncurkan Mercedes-Benz tahun ini. Dia menyebut akan menjadi kejutan bagi konsumen. 

“Yang itu ditunggu saja biar ada surprise,” imbuhnya. 

Untuk meningkatkan penjualan produk tahun ini, Donald menuturkan akan tetap konsisten dalam melayani dan memberikan pelayanan terbaik terhadap seluruh konsumennya. 

Pelayanan tersebut salah satunya yakni konsumen diberikan kesempatan untuk memilih spesifikasi mobil yang diinginkan seperti seri AMG, Maybach dan G-Class dari sisi warna hingga fitur yang ada. Sehingga produk-produk tersebut akan diorder secara khusus oleh manufaktur Mercedes-Benz di Jerman.

“Mercedes-Benz sudah 140 tahun hadir secara global. Kami adalah pionir dari mobil pertama di dunia sejak tahun 29 Januari 1886, sudah 140 tahun. Bisa dilihat bahwa inovasi yang kami berikan terhadap industri otomotif global selama 140 tahun itu sejarahnya sangat panjang, dan sudah terbukti kredibel di mata masyarakat,” ucap dia. 

Donald menjelaskan dari sudut pandang supply dan demand, konsumen mobil premium membeli produk Mercedes berdasarkan kedekatan emosional yakni brand yang dipercaya dengan baik. 

“Beyond itu yang bukan sekadar fungsional sebagai sebuah kendaraan tetapi merek kami di segmen premium, Mercedes-Benz itu adalah merek-merek premium yang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat antara pengguna, pemilik, dan juga kendaraan,” tutur Donald. 

“Dan faktor emosional itu akan mengeliminasi faktor-faktor lainnya karena ketika emosional itu sudah terkoneksi, keinginan itu sudah ada, kecintaan terhadap merek itu ada, dan basically customer akan membeli berdasarkan faktor emosional.”

Tergerus Selektif

Tak hanya Mercedes Benz, penjualan mobil premium lainnya yakni BMW pada 2025 hanya tercatat 1.922 unit. Artinya, penjualan BMW turun 58,9% dibandingkan 2024 sebesar 4.674 unit.

Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif dari ITB mengatakan bahwa di tahun 2026, pasar mobil mewah tak otomatis rontok namun cenderung tergerus secara selektif.

“Terutama pada subsegmen entry luxury yg masih sensitif terhadap pembiayaan serta pada ceruk luxury EV dan luxury MPV yg paling mudah diserang oleh premium China berbasis value for money seperti Denza D9 dan beberapa brand China hitech lainnya yg akan masuk di 2026 ini.” kata Yannes kepada Bloomberg Technoz belum lama ini.

Yannes menyebut penentunya bukan semata daya beli publik, melainkan peta pembeli luxury itu sendiri. Di satu sisi masih ada kelompok middle-up dan upper class yg relatif tidak terganggu oleh stagnasi ekonomi, tidak bergantung kredit dan justru tetap antusias membeli mobil berteknologi baru.

Sementara di sisi lain kelompok aspirasional premium akan lebih mudah menunda pembelian ketika bunga kredit dan ketidakpastian pendapatan membuat keputusan belanja besar jadi lebih hati-hati.

“Produk seperti Denza D9 tidak menggerus karena lebih murah, sebab posisinya sendiri premium (sekitar Rp950 juta saat peluncuran Januari 2025), tetapi karena menawarkan rasio teknologi dan fitur per rupiah yg terasa lebih tinggi bagi pembeli keluarga dan eksekutif yg mengejar kenyamanan, banjir fitur dan teknologi EV modern” tambah Yannes

“Akibatnya, sebagian pembeli pragmatis premium yg dulu memilih produk premium Jepang dan Eropa demi fitur bisa mulai berpindah, sementara heritage buyer tetap loyal pada produk premium Jepang dan Eropa karena ekuitas merek dan pengalaman berkendara mereka.”

(ain)

No more pages