Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan terpisah pada hari yang sama, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menuturkan PLN per Senin (2/2/2026) menyatakan mundur dari proyek IBC dan tidak berkontribusi atau chip in kembali setiap ada penambahan modal sehingga sahamnya di IBC terdelusi.

“PLN-nya enggak mau [jadi pengendali saham], per hari ini PLN sudah menyatakan bahwa mereka mundur dari proyek IBC dengan cara tidak melakukan chip in lagi,” kata Bambang dalam rapat bersama IBC.

"Nah, [entitas] yang tetap bertahan 25% Pertamina, dan Pertamina yang hari ini berbeda dengan Pertamina pada 2021,” lanjutnya.

Bambang menjelaskan pada 2021 pernah mengkritik PT  Pertamina (Persero) yang tidak layak berada di proyek IBC karena bisnis yang dikembangkan berbeda dengan IBC yakni pengembangan baterai atau penyimpanan energi. 

Dalam perkembangannya, Pertamina memiliki anak usaha Pertamina New & Renewable Energy (NRE) yang fokus pada usaha di bidang ketenagalistrikan dan energi terbarukan.

“Ini merupakan cara Pertamina pada masa mendatang [untuk] bertransformasi dari energi fosil ke energi bersih, ke energy storage,” ucap Bambang.

Dalam paparannya, IBC melaporkan pemegang saham perusahaan holding investasi baterai itu saat ini didominasi oleh MIND ID sebesar 67,5% yakni dengan masing-masing saham sebesar 33,75% milik Antam dan Inalum. Kemudian, Pertamina NRE 25% dan PLN sebesar 7,5%.

Sebelumnnya, komposisi saham IBC dipegang oleh Antam dengan porsi 26,7%, Inalum sebesar 26,7%, PLN dengan porsi 19,9%, serta PT Pertamina NRE dengan bagian 26,7%.

(wdh)

No more pages