“Dia akan membangun precursor cathode battery cell, dari hulu ke hilir,” kata Bahlil.
Bahlil menjelaskan pabrik baterai kendaraan EV dari proyek tersebut bakal dibangun di Jawa Barat. Sementara smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL), pabrik prekursor dan katoda akan dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Lebih lanjut, nikel yang dipasok untuk smelter tersebut akan bersumber dari tambang milik Antam. Dengan begitu, Bahlil mengklaim Indonesia bakal memiliki porsi saham mayoritas dalam lini hulu proyek Titan.
“Di atas 50%. Kita mau bikin masih maksimal, yang jelas di atas 50%, 60% sampai 70%, kita akan buat begitu, ya,” tegas dia.
Sementara pada lini hilir, Bahlil mengungkapkan konsorsium HYD bakal memegang saham mayoritas, sebab menjadi pihak yang memiliki teknologi.
Ditemui terpisah, Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyatakan perseroan bersama Antam dan konsorsium HYD bakal melakukan joint feasibility study (FS) dalam waktu dekat.
Dia menargetkan FS tersebut dapat disepakati pada tahun ini, sehingga eksekusi proyek tersebut bisa dilakukan dalam waktu dekat.
“Setelah ini masih akan ada joint feasibility study. Baru nanti akan ada agreement dan seterusnya. Jadi ini awal dari perjalanan bersama HYD,” kata Aditya, di kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026).
Proyek Titan sempat ditargetkan mulai dibangun pada Desember 2025, namun meleset.
Awalnya, pemimpin konsorsium proyek ini adalah LG Energy Solution Ltd. (LGES) yang belakangan didepak pemerintah lantaran berlarut-larutnya rencana investasi.
Huayou kemudian mengambil alih posisi pimpinan konsorsium untuk melanjutkan proyek.
Hampir serupa dengan Proyek Dragon besutan CATL-IBC yang baru diresmikan pemerintah, Proyek Titan juga dirancang sebagai ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari tambang, fasilitas pengolahan nikel HPAL, prekursor, katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.
Namun, hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Bahlil sebelumnya menjelaskan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu proyek tersebut.
Akan tetapi, di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC hanya di angka 30%.
Pemerintah saat ini tengah berupaya menegosiasikan peningkatan kepemilikan di lini hilir BUMN di Proyek Titan melalui partisipasi Danantara.
(azr/naw)





























